Image

Sebelum adanya bank, kegiatan pinjam meminjam dilakukan secara langsung (direct). Ini dinamakan Double Coincidence. Untuk melakukannya, ada dua syarat vital yang harus dimiliki, yaitu kenal serta memiliki dananya. A sebagai pihak yang kelebihan dana, tentu saja hanya mau meminjamkan uangnya kepada orang yang dikenalnya, karena kalau A hanya meminjamkan uangnya tanpa melihat siapa orangnya dan mempelajari latar belakangnya, bukan tidak mungkin resiko penipuan akan tinggi. Di lain pihak, B sebagai pihak yang ingin meminjam uang tentunya harus mencari pihak yang memiliki kelebihan dana. Jadi bukan hanya tergantung pada kenal atau tidaknya dengan suatu pihak, tetapi harus ada dananya. Itulah yang disebut pinjam meminjam secara langsung.

Image

Ketika sudah ada Bank, dua faktor yang ada di kegiatan pinjam meminjam secara langsung atau Double Coincidence bukanlah yang menjadi faktor mutlak lagi karena Bank merupakan kegiatan pinjam meminjam secara tidak langsung, asal ada yang menyimpan uangnya di Bank, maka Bank bisa mengalirkannya kepada yang membutuhkan tanpa harus pihak yang menyimpan uangnya di bank tahu keada siapa uangnya berputar. Itulah sebabnya Bank disebut juga Financial Intermedia atau Perantara Keuangan. Bank dapat bertahan sebagai pilar ekonomi karena Bank tidak harus memiliki faktor – faktor yang mutlak harus dimiliki oleh kegiatan pinjam meminjam secara langsung.Di dalam Undang – Undang, Bnak berfungsi sebagai lembaga yang menyimpan surplus dan menyalurkan kepada yang minus.

Image

Pada saat A menabung kelebihan dananya di Bank, pasti A mendapat bunga tabungan yang diberi symbol i1. Dan pihak B, ketika ingin meminjam uang karena B kekurangan dana, maka B akan menerima bunga yang harus dibayarkan beserta dengan jumlah yang dipinjam kepada Bank yang diberi symbol i2.

Selisih dari i2 dikurangi i1 itulah yang akan menjadi keuntungan Bank. i2 harus lebih besar dari i1 karena dari i2 ini diharapkan kita dapat mengembalikan dana yang diinvestasikan A beserta dengan bunganya serta untuk mendapat keuntungan Bank. Tapi, bukan berarti i2 bersifat konstan. i2 bisa turun pada saat – saat tertentu, namun penurunan i2 tetap tidak boleh menjadikan i2 lebih kecil dari i1 karena jika i2 lebih kecil dari i1, maka Bank susah untuk mendapatkan keuntungan, begitupula dengan A yang tidak mendapat keuntungan dari hasil investasi dia sehingga tidak ada lagi orang yang mau menabung di Bank.

Ada tiga motif seseorang  ingin memperoleh uang, yaitu :

  1. Untuk Transaksi = untuk memenuhi kebutuan hidup
  2. Berjaga – jaga = supaya ada alternative saat mengalami situasi yang tidak menguntungkan
  3. Spekulasi = untuk mendapatkan profit yang lebih.

Image

Setelah pihak A yang kelebihan dana menginvestasikan ke Bank dan pihak B yang kekurangan dana meminjam ke Bank, Bank harus memutar uang pihak A supaya mendapatkan keuntungan beserta bunga untuk tabungan A. Selain dengan meminjamkan uang kepada pihak B yang kekurangan dengan tambahan bunga pinjaman, Bank pun membeli saham dan atau obligasi di Pasar Modal untuk memperoleh dana yang lebih dan sebagai salah satu cara Bank menginvestasikan uang nasabahnya.

Image

Ada kondisi dimana orang – orang tidak menjadikan Bank sebagai alternatif investasi ataupun alternatif untuk kegiatan pinjam meminjam. Saat i1 lebih besar dari i3 , maka pihak A yang memiliki kelebihan dana lebih memilih untuk menginvestasikan dana yang ia miliki dengan membeli saham di pasar modal karena lebih menguntungkan jika ia lebih menginvstasikan dengan membeli saham karena ia dapat memperoleh deviden. Begitu pula pada pihak B yang kekurangan dana, jika i2 lebih besar daripada i3 , maka pihak B lebih memilih untuk menjual obligasi dibandingkan meminjam di Bank.

Dalam kasus lain, jika A membeli saham B, pihak A akan mendapat deviden. Deviden dibagi setiap akhir periode akuntansi. Ketika ada situasi yaitu harga saham B naik, A bisa mendapat keuntungan dengan menjual saham yang ia miliki dan itu yang dinamakan Capital Gain. Jika dalam kondisi yang sama namun A tidak mau menjual sahamnya, maka disebut Potential Gain. Jika pihak B tidak mau orang lain memiliki saham di perusahaannnya, maka pihak B dapat menerbitkan surat hutang obligasi sehingga dia mendapat bunga berupa persentase yang dinamakan diskonto. Contohnya Hari ini obligasi dijual seharga Rp 9.000.000 . jika dijual pada tiga bulan mendatang, maka harganya akan menjadi Rp 10.000.000 sehingga diskonto yang didapat dihitung dengan mengurangi harga di masa yang akan datang dengan harga pada saat ini kemudia dibagi dengan harga saat ini. Berdasarkan contoh di atas, dapat diketahui bahwa diskonto yang diperoleh sebesar 11,11% dari Rp 10.000.000 dikurangi dengan Rp 9.000.000 terlebih dahulu lalu dibagi dengan rp 9.000.000 sehingga menghasilkan diskonto sebesar 11,11% .

Image

Ada kalanya situasi pinjam meminjam mengalami satu kasus yang tidak menyenangkan. Jika suatu saat B meninggal, padahal dia belum mengembalikan uang yang ia pinjam, tentu A yang harus menanggung resikonya jika dilakukan secara direct. Namun, di dalam pinjam meminjam melalui Bank, maka Bank lah yang menanggung resiko itu atau yang dinamakan Risk Transfer. Misalkan pinjaman B sebesar 100 juta, maka Bank akan mengasuransikan pinjaman itu ke asuransi XYZ sehingga asuransi XYZ yang akan menanggungnya. Namun, Bank harus membayar iuran sebesar 1 juta yang dinamakan uang premi kepada asuransi XYZ setiap bulannya sehingga pinjaman B sebesar 100 juta akan ditanggung oleh asuransi XYZ.

Image

Jika seandainya asuransi XYZ hanya mampu menutup 20 juta dari 100 juta yang dibutuhkan Bank untuk menutupi pinjaman B, maka uang premi yang tadinya 1 juta akan turun menjadi 200 ribu.  Maka asuransi XYZ mengajak asuransi OPQ untuk bekerja sama dalam menutupi uang pinjaman B yang bernilai 100 juta. Karena asuransi XYZ hanya mampu membayar 20 juta, sehingga asuransi OPQ lah yang akan menanggung sisanya yaitu sebesar 80 juta. Untuk itu, asuransi XYZ harus membayar premi kepada asuransi OPQ sebesar 800 ribu sehingga sisa dari uang pinjaman yang tidak tertutupi oleh asuransi XYZ ditutupi oleh asuransi OPQ. Inilah yang dinamakan Resuransi.

Image

Jika seandainya asuransi OPQ hanya mampu menutupi 25 juta dari 80 juta yang dibutuhkan untuk menutupi pinjaman dari B, maka asuransi OPQ mengajak asuransi KLM untuk menutupi kekurangannya yaitu sebesar 55 juta sehingga asuransi OPQ harus membayar premi kepada asuransi KLM sebesar 550ribu. Inilah yang dinamakan Rektosesi. Namun, karena di Indonesia batasnya hanya sampai kepada reasuransi, maka asuransi OPQ membawa uangnya ke luar negeri untuk asuransi KLM yang berada di Singapura. Inilah yang dinamakan capital flight.

Image

Dikarenakan uang yang harus ditanggung asuransi KLM cukup besar, maka asuransi KLM harus memutar  otak untuk mendapatkan untung atau sumber dana tambahan. Oleh sebab itu, dengan premi yang ia terima, asuransi KLM menginvestasikan ke mana – mana, baik dengan membeli saham untuk capital gain maupun membeli obligasi. Selain itu, asuransi KLM membangun perusahaan besar yang dinamakan Manajemen Investasi (MI). Perusahaan MI lalu membuka anak cabang yaitu HI, XY, dan ZL. Kemudian HI membeli saham Bank City yang sudah diterbikan di pasar modal sebesar 20%. Kemudian XY juga membeli saham Bank City di pasar modal sebesar 20%. ZL pun melakukan hal yang sama namun dengan persentase yang berbeda yaitu sebesar 30%. Mengapa tidak ada yang di atas 30% per pihaknya? Karena di Indonesia ditetapkan peraturan bahwa dalam membeli saham, tidak boleh melebihi 35% oleh satu pihak. Itulah kenapa anak perusahaan HI, XY, dan ZL tidak bisa membeli saham di atas persentase 35%. Setelah saham Bank City dibeli oleh HI, XY, dan ZL, maka asuransi KLM mempunyai kendali penuh terhadap bank City karena jumlah saham yang sudah dibeli yaitu sebesar 80% karena HI, XY, dan ZL merupakan bagian dari asuransi KLM. Sehingga, asuransi KLM mampu menyuruh Bank City menggunakan asuransi XYZ, kemudia seterusnya hingga kembali lagi kepada asuransi KLM.

Image

Salah satu permasalahan yang cukup sering di alami bank adalah berkurangnya minat orang – orang untuk menabung di bank lantaran bunga yang terlalu tinggi sehingga Bank harus menemukan cara lain. Cara yang ditempuh bank adalah membuka PT. ABC yang bekerja sama dengan PT. AHS yang bergerak sebagai produsen motor untuk kredit motor atau untuk proses leasing. Mekanismenya yaitu jika B sebagai pihak yang ingin mengkredit motor, maka ia akan membayar kepada Bank City dengan bunga sebesar i2, lalu Bank City membayar kepada PT. ABC dengan bunga i4, setelah sebelumnya PT. ABC membayar secara lunas kepada PT. AHS. Lalu, keuntungan bank diperoleh dari i2 dikurang i4 sehingga i2 harus lebih besari dari i4.

Selain itu, Bank juga membuka PT. DEF sebagai penyalur kartu kredit. B pun membayar kepada bank City dengan tambahan bunga sebesar i2, lalu Bank membayar kepada PT. DEF dengan tambahan bunga sebesar i5. Kentungan Bank pun diperoleh dari selisih dari i2 dan i5 sehingga i2 pun harus lebih besar dari i5. Peminjam di Bank ternyata bukan hanya secara individu saja, yaitu dari perusahaan – perusahaan, salah satu contohnya adalah PT. Jasa Marga.