Barang Inferior

Barang inferior adalah salah satu klasifikasi barang berdasarkan sifat perubahan permintaan yang berlaku apabila terjadi perubahan dari segi pendapatan. Pengertian barang inferior itu sendiri pun adalah barang yang banyak diminati dan dicari oleh orang – orang yang mempunyai penghasilan yang relative rendah. Contoh kasusnya adalah kompor dengan bahan bakar minyak. Orang – orang yang berpenghasilan rendah cenderung lebih memilih kompor dengan bahan bakar minyak dibandingkan dengan kompor yang berbahan bakar gas karena harga minyak tanah jauh lebih mudah dijangkau< terutama untuk kalangan menengah ke bawah. Tapi jika penghasilan mereka meningkat, mereka akan beralih pada kompor dengan bahan bakar gas karena gas elpiji lebih mudah di dapat.

 

 

 

Gambar di atas merupakan kurva indifferen. Menurut kurva indifferen, jumlah barang yang diminta konsumen dapat berubah, entah itu bertambah, berkurang, atau bahkan stabil. Dalam gambar tersebut, barang normal ditunjukan dengan huruf Y karena jumlah  permintaan akan barang tersebut meningkat bersamaan dengan meningkatnya pula pendapatan yang diperoleh oleh orang – orang tersebut yang disimbolkan dengan BC1 yang bergeser ke BC2. Sementara barang inferior disimbolkan dengan huruf X karena ketika jumlah pendapatan yang diperoleh meningkat, maka barang inferior pun akan menurun permintaannya yang di simbolkan dengan X1 yang bergerak turun ke X2.

 

 

Barang Substitusi

 

Barang Substitusi adalah salah satu klasifikasi barang berdasarkan hubungannya dengan barang lain. Pengertian barang substitusi  itu sendiri adalah baran yang dipilih sebagai alternative  lain dari barang yang sedang mengalami gejolak perubahan tertentu.

 

 

 

Contoh kasusnya adalah lampu dengan merk Philips (A) dan lampu dengan merk Osram (B). Berdasarkan kurva di atas, menunjukan bahwa produk B lebih banyak dibeli dibandingkan lampu A. Itu dikarenakan ada beberapa factor – factor tertentu, salah satunya adalah harga. Masyarakat lebih memilih lampu Osram karena lampu Philips bias digantikan keberadaannya atau lampu Osram dijadikan alternative atas kenaikan harga lampu Philips.

 

 

Surplus Produsen

 

Surplus Produsen adalah suatu keadaan dimana penjual mampu menjual barang yang ditawarkannya lebih tinggi dibandingkan dari harga pasar pada umumnya sehingga produsen mendapatkan keuntungan. Contoh kasus adalah Perusahaan Sepatu mampu menjual barang produksinya (Qe) dengan harga Rp 170.000 (Pb) , padahal harga di pasar sebesar 150.000 (Pa) dengan demikian Perusahaan pun memperoleh Surplus Produsen sebesar Rp 20.000.

 

 

 

 

Equilibrium Price and Quantity ( Bagian b )

 

 

 

Berdasarkan kurva di atas, ketika permintaan akan suatu barang turun, tetapi penawaran akan barang tersebut stabil, maka harga serta kuantitas dar barang tersebut pun akan turun karena orang – orang merasa tidak terlalu penting untuk memiliki barang tersebut. Contohnya adalah komputer.  Sekarang, seiring perkembangan zaman yang begitu pesat dan kebutuhan manusia akan informasi yang begitu besar, menyebabkan tidak mungkinnya orang – orang membawa komputer kemana – mana, oleh karena itu walaupun penawaran akan komputer tidak berubah, tetapi permintaannnya akan berkurang seiring dengan bertambahnya jumlah laptop dan notebook yang beredar di pasaran.  Dan juga, harga serta kuantitas dari komputer itupun akan berkurang pula.

 
Referensi :

1. http://sebastian-co.blogspot.com/

2. https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:Hutjj7_YJD0J:ayurai.dosen.narotama.ac.id/files/2011/05/E-Mik-1-Pengantar-teori-mikro.doc+&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESjpLORfswSF51QptKv9EKLNrwHmjHgc2PzE5iTLGZFBEeezONqfE7LFHHQHQElfLinPBp9foDVAVJkgyRZEnC85jHTQKYbaDZ1dhAU7kmQA0Z6VqFDmhV5HJf–4ThDPJsWarQL&sig=AHIEtbS5VQGOkqlPPpN-ITaVSqHydzVx6Q

3. http://www.oup.com/uk/orc/bin/9780199586547/01student/advanced/02indifference/

4.  Modul Laboratorium Manajemen Dasar Universitas Gunadarma. Semester 2.
Chapter 3.ppt. Dr. Prihantoro. Teori Ekonomi 1. Universitas Gunadarma.

5.  Pengaruh Perubahan Permintaan dan Penawaran Terhadap Harga dan Jumlah Barang Keseimbangan. Dr. Prihantoro. Teori Ekonomi 1. Universitas Gunadarma.