Pengangguran. Mendengar kata ini, yang terlintas dipikiran kita pasti adalah orang – orang yang malas, sudah tidak produktif, dan tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Bahkan, seringkali kita mendengar bahwa orang – orang cenderung mencibir dan menjelek – jelekan orang yang pengangguran ini. Memang, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pendapat orang – orang yang sudah terlanjur mendarah daging ini. Padahal, menurut Wikipedia.com, ada beberapa jenis pengangguran yang mungkin masyarakat awam belum mengetahui.Tapi bukan itu yang saya ingin bahas. Yang saya ingin bahas adalah anggapan dan pandangan masyarakat pada umumnya mengenai stigma dari pengangguran ini.

Menurut saya, tidak selamanya pengangguran itu adalah orang yang malas mencari pekerjaan, orang yang tidak punya usaha untuk melanjutkan dan mengembangkan hidupnya ke arah yang lebih baik. Justru akhir – akhir ini, banyak pengangguran yang merupakan lulusan dari perguruan – perguruan tinggi ternama, yang mempunyai titel atau gelar yang tinggi dan bergengsi. Bahkan kalau dulu mungkin pengangguran – pengangguran banyak yang merupakan angkatan kerja yang tidak produktif. Sekarang, justru orang – orang yang tergolong angkatan kerja yang produktif lah yang banyak menganggur. Seperti kita ketahui bahwa angkatan kerja produktif itu adalah angkatan kerja yang mempunyai jiwa produktif dan memiliki kemampuan untuk bekerja lebih baik dibandingkan dengan angkatan yang lainnya. Padahal kalau bisa diistilahkan, mereka itu ibarat sayuran hijau yang baru dipanen. Tapi, malah angkatan yang produktif inilah yang tingkat penganggurannya tinggi. Saya jadi teringat cerita dari beberapa orang bahwa ada seseorang yang merupakan lulusan fakultas kedokteran dari universitas ternama, yang ternyata malah jadi pengangguran. Dari kasus ini saja, kita pasti berpikir – pikir dan menerka – nerka. Mengapa orang – orang yang seperti itu justru menganggur?

Sebenarnya, ada berbagai macam faktor – faktor yang menyebabkan seseorang menjadi pengangguran. Menurut pendapat saya, faktor – faktor tersebut diantaranya adalah :

1. Faktor Pendidikan

Walaupun banyak pengangguran yang mempunyai latar belakang pendidikan yang memadai yang berakhir sebagai pengangguran, tapi tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dihindari, bahwa faktor pendidikan saat ini masih jadi salah satu faktor yang menyebabkan tingkat pengangguran di Indonesia, bahkan mungkin diseluruh dunia tinggi. Apalagi di Indonesia yang notabene masih banyak masyarakat yang tinggal di daerah perkumuhan yang masih jarang ditemukan dan jarang bisa dijangkau oleh fasilitas pendidikan.

2. Faktor  “Biasa”

Ini merupakan faktor yang menurut saya, sangat benar adanya. Karena orang yang biasa dan tanpa keistimewaan itu banyak. Tapi orang yang berbeda itu jarang. Dan disinilah yang membuat kita bisa mempunyai daya tarik serta nilai jual di dunia pekerjaan. Tapi, mengutip perkataan Agnes Monica saat audisi Indonesian Idol yang intinya bahwa kita tidak boleh hanya berhenti untuk menjadi berbeda, tanpa mengeksplor lagi kemampuan kita sehingga tidak hanya saat – saat tertentu saja kita berbeda, melainkan kita justru menjadi panutan untuk orang – orang di sekitar kita.

3. Faktor “Newest Trend”

Kalau kita sadari, akhir – akhir ini, terutama di Indonesia, banyak perusahaan – perusahaan yang selalu mengikuti tren yang baru, tapi tidak memperhitungkan dampak – dampak yang terjadi. Seperti di dunia persepakbolaan. Mereka melihat kalau tren pesepakbola dari luar sedang banyak diperbincangkan. Dan oleh karena itu, mereka berburu pemain dengan model seperti itu. Memang harus kita akui kalau skill dan kemampuan mereka rata – rata lebih baik dibandingkan pemain asli Indonesia. Tapi klub – klub itu tidak sadar bahwa dengan mereka melakukan itu, mereka justru membuat banyak pemain sepakbola asli Indonesia yang hanya menjadi cadangan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terpaksa menganggur.

4. Faktor  Instan

Instan kalau kita gambarkan adalah cepat tanpa repot. Seperti itulah kebanyakan perusahaan – perusahaan itu. Mereka hanya mau yang instan, dan tidak mau mebuang – buang waktu mereka untuk hal – hal yang tidak penting. Memang itu baik. Tapi, tidak dalam semua aspek. Contohnya dalam pemilihan karyawan. Perusahaan – perusahaan hanya mau mengambil yang cepat saja, yaitu orang yang mempunyai keahlian tinggi. Padahal, banyak orang – orang yang sebenarnya jika dilatih, mungkin mereka bahkan bisa melampaui orang – orang yang sudah terlebih dahulu. Tapi sayangnya, perusahaan – perusahaan kebanyakan tidak mau mengambil resiko ini. Mereka tidak mau melatih karyawan – karyawan atau calon – calon karyawan untuk menjadi lebih baik lagi. Sebaliknya, banyak perusahaan yang memutuskan kontrak sepihak hanya karena sudah menemukan pengganti yang lebih baik. Maka tepatlah istilah “yang pinter makin pinter, yang bodoh makin bodoh”.

5. Faktor “Jiwa pengusaha”

Inilah salah satu faktor kelemahan kita. Kebanyakan, kita lebih mau menerima jadinya dibandingkan mengolah bahan baku dari awal. Artinya kita lebih mau menjadi karyawan yang sudah jelas arahnya, dibandingkan yang mungkin masih meraba – meraba mencoba usaha baru yang belum ada kepastian hingga 100%. Jangankan 100%, 50%nya pun mungkin belum ada. Tapi, jika seseorang dari dulu sudah di tanamkan jiwa pengusaha, maka orang ini tidak hanya mencukupi kebutuhan dirinya sendiri, tapi justru dia membantu orang lain karena dia bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang baru sehingga bukan tidak mungkin bisa menurunkan angka pengangguran di Indonesia khususnya.

6. Faktor Pengalaman

Banyak orang yang walaupun sudah mempunyai gelar yang tinggi, tapi ditolak. Salah satunya karena faktor pengalaman yang kurang memadai. Sebagai contoh, ada lulusan sarjana yang masih menganggur, sementara ada yang “hanya” lulusan SD sudah bekerja belasan bahkan puluhan tahun di suatu perusahaan. Bahkan sudah dapat membuka lapangan usaha sendiri. Itu karena yang lulusan SD ini sudah memiliki banyak pengalaman yang benar – benar dari nol, sampai pengalaman yang benar – benar tinggi. Istilahnya from zero to hero. Karena dengan banyaknya pengalaman, orang – orang lebih bisa berhati – hati dalam bertindak dan bisa memberi keuntunga pada perusahaan – perusahaan tersebut.

Jadi kesimpulannya, jika seseorang bisa memperbaiki dan memenuhi keenam faktor, atau paling tidak beberapa faktor diatas, pasti tingkat pengangguran akan jauh lebih berkurang dan angkatan yang produktif pun bisa lebih diberdayakan lagi sehingga tidak keburu dimakan usia dan waktu.

Sumber :

1. http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://ngerumpi.com/images/medium/pengangguran.jpg&imgrefurl=http://ngerumpi.com/baca/2011/02/09/pengangguran-terselubung&usg=__A4MKd2lgniEzLeXvOTBZ4tD8YTk=&h=303&w=400&sz=35&hl=id&start=3&zoom=1&tbnid=-I6fO00DObMSBM:&tbnh=94&tbnw=124&ei=uEiET7OdC8nKrAfv1YThBg&prev=/search%3Fq%3Dpengangguran%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN%26biw%3D1024%26bih%3D677%26tbm%3Disch&um=1&itbs=1