Just another WordPress.com site

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN DANA PIHAK KE TIGA TERHADAP PINJAMAN DARI JUMLAH SIMPANAN DAN KREDIT BERMASALAH BANK BUMN TAHUN 2008 – 2012

Analisis pengaruh perubahan dana pihak ke tiga terhadap pinjaman dari jumlah simpanan dan kredit bermasalah bank BUMN tahun 2008 – 2012

Agustya Lisdayanti (20211399)

Ayu Nurul Ardhita (27211779)

Novice Lebrie Sagilitani (25211246)

Raycard Destion Daniel (25211919)

Wanda Anindita (27211355)

 

SMAK 05

Universitas Gunadarma

2013

Abstrak

Semenjak krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998, fungsi intermediasi perbankan mengalami penurunan. Indikator fungsi intermediasi ini dapat dilihat dari indikator Loan to Deposit Ratio (LDR). Alasan pertama yang membuat LDR menurun adalah banyaknya kredit bermasalah di neraca perbankan sehingga meningkatkan Non Performing Loan (NPL) (Utomo, 2008). Jurnal ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari Laporan Keuangan Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dari tahun 2008 sampai 2012. Jurnal ini meneliti perubahan dana pihak ketiga dan membandingkannya dengan pinjaman dari jumlah simpanan dan tingkat terjadinya kredit bermasalah pada Bank BUMN selama tahun 2008-2012 dengan menggunakan Loan to Deposit Ratio (LDR) serta Non Performing Loan (NPL). Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kebijakan kredit yang dikeluarkan oleh pihak manajemen bank diperlukan untuk menentukan jumlah DPK yang dapat disalurkan bank melalui pinjaman atau kredit dan mengendalikan jumlah kredit bermasalah, peningkatan jumlah DPK pada bank cenderung meningkatkan LDR dan menurunkan NPL, dan hubungan antara DPK, LDR, dan NPL yang ada tidak absolut. Banyak faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hubungan tersebut.

Keyword : Dana Pihak Ketiga (DPK), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL)

Pendahuluan

Peranan bank sangat berkontribusi bagi pesatnya perkembangan ekonomi di Indonesia, namun kompleksitas usaha perbankan yang tinggi dapat meningkatkan resiko yang dihadapi oleh bank-bank yang ada di Indonesia (Perkasa, 2007). Bank adalah lembaga keuangan (financial institution) yang berfungsi sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang kelebihan dana (surplus unit) dan pihak yang kekurangan dana (deficit unit). Melalui bank, kelebihan dana tersebut dapat disalurkan kepada pihak – pihak yang memerlukan dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Bank menerima simpanan uang dari masyarakat (Dana Pihak Ketiga) dan kemudian menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit (Pratama, 2010). Simpanan dari masyarakat tersebut dalam bentuk giro, tabungan, ataupun deposito berjangka.

Krisis Moneter 1997 – 1998 yang melanda perekonomian Indonesia telah berimbas pada sektor perbankan. Krisis yang diawali dengan devaluasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS telah menimbulkan ledakan kredit macet dan melunturkan kepercayaan masyarakat kepada lembaga perbankan, yang pada gilirannya melemahkan fungsi intermediasi perbankan (Pratama, 2010). Semenjak krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997 – 1998, fungsi intermediasi perbankan mengalami penurunan. Indikator fungsi intermediasi ini dapat dilihat dari indikator Loan to Deposit Ratio (LDR). Alasan pertama yang membuat LDR menurun adalah banyaknya kredit bermasalah di neraca perbankan sehingga meningkatkan Non Performing Loan (NPL) (Utomo, 2008).

Ditengah beratnya tantangan yang dihadapi, bank pada umumnya mampu mempertahankan kinerja yang positif. Profitabilitas, likuiditas dan solvabilitas bank stabil pada tingkat yang memadai. Namun demikian, fungsi intermediasi masih terkendala akibat perubahan kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan (Laporan Tahunan Bank Indonesia, 2006 dalam Nusantara, 2009)

Penting bagi bank untuk senantiasa menjaga kinerja dengan baik, terutama menjaga tingkat profitabilitas yang tinggi, mampu membagikan deviden dengan baik, prospek usaha yang selalu berkembang, dan dapat memenuhi ketentuan prudential banking regulation dengan baik (Mudrajad dan Suhardjono, 2002 dalam Ariyanti, 2010). Apabila bank dapat menjaga kinerjanya dengan baik maka dapat meningkatkan nilai saham di pasar sekunder dan meningkatkan jumlah dana dari pihak ketiga (Ariyanti, 2010). Dana – dana yang dihimpun dari masyarakat (Dana Pihak Ketiga) merupakan sumber dana terbesar yang paling diandalkan oleh bank (Dendawijaya, 2005). Sebagai pihak yang menyalurkan dana pihak ketiga kepada masyarakat yang membutuhkan dana, bank akan berupaya memaksimalkan keuntungan tersebut. Pemberian kredit harus prudent sebab kredit yang disalurkan tersebut akan menyimpan risiko yang biasa disebut dengan risiko kredit (Galih, 2011).

Menurut Siamat (2004) dalam Rohaeni (2009), proporsi pendapatan utama bank berasal dari kredit. Namun, kredit juga merupakan salah satu faktor rapuhnya usaha perbankan apabila kredit tersebut dinyatakan bermasalah. Hal ini berimplikasi pada pengelolaan dana pihak ketiga yang merupakan kegiatan penghimpunan dana dan kredit bermasalah yang merupakan risiko dari kegiatan penyaluran dana.

Berdasarkan hal yang telah diuraikan di atas, jurnal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dana pihak ketiga terhadap pinjaman dari tabungan yang diberikan dan kredit bermasalah yang dimiliki Bank BUMN 2008-2012.

Metode Penelitian

Jurnal ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari Laporan Keuangan Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dari tahun 2008 sampai 2012. Jurnal ini meneliti perubahan dana pihak ketiga dan membandingkannya dengan pinjaman dari jumlah simpanan dan tingkat terjadinya kredit bermasalah selama tahun 2008-2012 dengan menggunakan Loan to Deposit Ratio (LDR) serta Non Performing Loan (NPL).

Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah dana-dana yang dihimpun dari masyarakat yang merupakan sumber dana terbesar yang paling diandalkan oleh bank (Teniwut, 2006 pada Kusumawati, 2008). Dana pihak ketiga merupakan simpanan yang dimiliki Bank dari masyarakat. Simpanan menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Dana Pihak Ketiga (DPK) tidak hanya mengendap saja di Bank, melainkan diinvestasikan oleh Bank  kemana saja yang dapat memberi keuntungan untuk Bank.

Salah satu dari sekian banyak kegiatan investasi Bank adalah pemberian pinjaman atau kredit kepada masyarakat yang membutuhkan dengan tambahan bunga sesuai dengan kebijakan yang ada di masing-masing Bank. Kredit berasal dari bahasa Yunani, credere, yang berarti kepercayaan. Dengan demikian istilah kredit memiliki arti khusus, yaitu meminjamkan uang (penundaan pembayaran). Apabila orang mengatakan membeli secara kredit maka hal itu berarti si pembeli tidak harus membayarnya pada saat itu juga (Fitria dan Sari, 2012). Kredit dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 mempunyai pengertian yaitu penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersama-kan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Fungsi kredit menurut  Firdaus dan Ariyanti (2004: 3) pada Adriyanti (2011) adalah sebagai berikut:

  1. Kredit dapat memajukan arus tukar menukar barang dan jasa.
  2. Kredit dapat mengaktifkan alat pembayaran yang idle (sejumlah dana yang tidak digunakan).
  3. Kredit dapat menciptakan alat pembayaran yang baru.
  4. Kredit sebagai alat pengendalian harga.
  5. Kredit dapat mengaktifkan dan meningkatkan manfaat atau kegunaan potensi-potensi ekonomi yang ada.

Menurut Aqidah (2011), Pemberian kredit mempunyai tujuan tertentu dan tujuan tersebut tidak lepas dari misi bank tersebut. Adapun tujuan utama kredit sebagai berikut:

a. Mencari Keuntungan

Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut. Hasil tersebut terutama dalam bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah. Kemudian hasil lainnya bahwa nasabah yang memperoleh kredit pun bertambah maju dalam usahanya. Keuntungan ini penting untuk kelangsungan hidup bank. Jika bank yang terus-menerus menderita kerugian, maka besar kemungkinan bank tersebut akan dilikuidir.

b. Membawa Usaha Nasabah

Yaitu untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja. Dengan dana tersebut, maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperluas usahanya.

c. Membantu Pemerintah

Bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan, maka semakin baik mengingat semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan diberbagai sektor.

Penyaluran kredit bukannya tanpa masalah. Ada kalanya kredit yang disalurkan oleh Bank tidak sesuai dengan perkiraan dan ekspektasi yang diharapkan oleh Bank. Kondisi ini disebut kredit bermasalah. Menurut Fitria dan Sari (2012), pengertian kredit bermasalah adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah diperjanjikannya.

Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Direksi No. 31/147/KEP/DIR tanggal 1 November 1998 menilai kredit bermasalah atas dasar kualitasnya yang dibagi dalam tiga golongan yaitu kolektibilitas Kurang Lancar (Sub Standard), Diragukan (Doubtful), dan Macet (Loss) dimana masing-masing kelompok diukur dengan tiga kriteria utama yaitu Prospek Usaha, Kemampuan Membayar, dan Kondisi Keuangan Debitur (Soebagio, 2005).

Jurnal ini menggunakan perhitungan Rasio Non Performing Loan (NPL) dan Loan to Deposit Rasio (LDR). Rasio NPL menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Kredit dalam hal ini adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk kredit kepada bank lain (Almilia dan Herdiningtyas, 2005 pada Adriyanti, 2011). Non Performing Loan (NPL) merupakan persentase jumlah kredit bermasalah (kurang lancar, diragukan, macet) terhadap total kredit, adapun rumus dari NPL adalah (Kusumawati, 2008):

Image

Bank Indonesia menetapkan batas nilai NPL maksimum yaitu sebesar 5%, apabila Bank melebihi batas yang diberikan maka Bank tersebut dikatakan tidak sehat. Semakin tinggi tingkat NPL maka semakin besar pula risiko kredit yang ditanggung oleh pihak bank (Fitria dan Sari, 2012).

LDR disebut juga rasio kredit terhadap total dana pihak ketiga yang digunakan untuk mengukur dana pihak ketiga yang disalurkan dalam bentuk kredit. Rasio ini untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dana dengan kredit-kredit yang telah diberikan kepada para debiturnya (Fitria dan Sari, 2012). LDR ini juga digunakan untuk mengetahui sampai sejauh mana dana masyarakat yang dihimpun oleh bank disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman atau kredit (Aqidah, 2011). Rumus dari LDR ini adalah:

Image

Rasio yang paling sehat menurut Bank Indonesia paling tinggi 94,75%. Hal ini berarti bahwa dana yang terhimpun, secara optimal dapat disalurkan ke perkreditan yang merupakan aset yang paling produktif bagi Bank (Firdaus & Ariyanti, 2003 pada Soebagio, 2005 Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, angka LDR seharusnya berada disekitar 85% – 110% (Manurung, Rahardja, 2004 pada Billy, 2005)

Hasil dan Pembahasan

Berikut ini adalah hasil dan pembahasan dalam penelitian ini:

Image

Tabel di atas menunjukkan besar DPK, LDR, NPL, dan perubahannya, milik Bank Mandiri tahun 2008 – 2012. DPK Bank Mandiri terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2008 hingga 2012, dan peningkatan terbesar dialami pada tahun 2012 yaitu sebesar 60.664 Milyar Rupiah. Jumlah pinjaman dari simpanan (LDR) Bank Mandiri juga terus meningkat, dan peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2011 sebesar 6,50%. Meski terdapat peningkatan DPK dan LDR dalam kurun waktu lima tahun, Bank Mandiri mampu untuk terus menurunkan kredit bermasalah yang dimilikinya (NPL), penurunan NPL terbesar terjadi pada tahun 2009 sebesar 1,9%.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa Bank Mandiri telah dengan bijak mengatur proporsi DPK untuk menyalurkan kredit karena Bank Mandiri memiliki kredit bermasalah yang kecil, bahkan NPL Bank Mandiri adalah NPL terkecil dari Bank BUMN lainnya pada tahun 2012.

Image

Tabel di atas menunjukkan besar DPK, LDR, NPL, dan perubahannya, milik Bank Negara Indonesia tahun 2008 – 2012. DPK Bank Negara Indonesia terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2008 hingga 2012, dan peningkatan terbesar dialami pada tahun 2011 yaitu sebesar 36.921 Milyar Rupiah. Jumlah pinjaman dari simpanan (LDR) Bank Negara Indonesia mengalami fluktuasi, bahkan pada tahun 2009 LDR mengalami penurunan sebesar 4,50% dan kembali mengalami peningkatan sebesar 6,10% pada tahun berikutnya. Peningkatan ini tidak sebesar peningkatan LDR tahun 2012 yaitu sebesar 7,10%. Meski mengalami fluktuasi LDR, NPL Bank Negara Indonesia terus mengalami penurunan, dan penurunan terbesar terjadi pada tahun  2012 yaitu sebesar 0,80%.

Dari tabel di atas kita dapat mengetahui bahwa Bank Negara Indonesia selalu berusaha mengendalikan jumlah penyaluran kredit agar kredit bermasalah terus berkurang dengan mengurangi pinjaman dari tabungan yang ada jika dianggap kredit bermasalah terlalu tinggi, kemudian kembali menyalurkan kredit dari tabungan setelah dianggap bahwa kredit bermasalah berkurang.

Image

Tabel di atas menunjukkan besar DPK, LDR, NPL, dan perubahannya, milik Bank Rakyat Indonesia tahun 2008 – 2012. DPK Bank Negara Indonesia terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2008 hingga 2012, dan peningkatan terbesar dialami pada tahun 2010 yaitu sebesar 77.724 Milyar Rupiah. Jumlah pinjaman dari simpanan (LDR) Bank Rakyat Indonesia mengalami fluktuasi, bahkan pada tahun 2010 LDR mengalami penurunan hingga 5,71% dan kembali mengalami peningkatan sebesar 1,03% pada tahun berikutnya. Peningkatan LDR tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 3,65%, namun peningkatan ini tidak sebanding dengan penurunan yang terjadi pada tahun 2010 tadi. NPL Bank Rakyat Indonesia mengalami fluktuasi dengan adanya peningkatan NPL sebesar 0,72% pada tahun 2009. Namun NPL yang tinggi pada tahun 2009 mampu ditekan hingga 0,74%.

Berdasarkan tabel di atas, kita dapat mengetahui bahwa setelah terjadi peningkatan NPL tahun 2009, Bank Rakyat Indonesia berusaha menekan jumlah pinjaman dari tabungan pada tahun berikutnya. Dan setelah NPL mampu diturunkan, Bank Rakyat Indonesia secara perlahan mulai meningkatkan pinjaman dari tabungan pada tahun-tahun berikutnya.

Image

Tabel di atas menunjukkan besar DPK, LDR, NPL, dan perubahannya, milik Bank Tabungan Negara tahun 2008 – 2012. DPK Tabungan Negara terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2008 hingga 2012, dan peningkatan terbesar dialami pada tahun 2012 yaitu sebesar 18.698 Milyar Rupiah. Jumlah pinjaman dari simpanan (LDR) Bank Tabungan Negara mengalami fluktuasi, bahkan cenderung menurun setiap tahunnya terlebih pada tahun 2011 yang penurunannya mencapai 5,86%, sedangkan LDR terrtinggi terjadi pada tahun 2010 sebesar 108,42% dengan peningkatan sebesar 7,13%. NPL Tabungan Negara juga mengalami fluktuasi bahkan pada thun 2012 mengalami peningkatan sebesar 1,34% sehingga NPL Bank Tabungan Negara mampu menyentuh angka 4,09%.

Dari tabel di atas kita dapat mengetahui bahwa Bank Tabungan Negara memiliki DPK yang paling sedikit jika dibandingkan dengan DPK Bank BUMN lainnya. Namun, Bank Tabungan Negara menyalurkan pinjaman dari tabungan dalam jumlah yang sangat besar bahkan terbesar dari Bank BUMN lainnya. Jika kita melihat perubahan LDR dan NPL Bank Tabungan Negara, kita akan tahu bahwa Bank Tabungan Negara sulit mengendalikan kredit bermasalah yang dimiliki. maka tidak salah mengapa pada akhir tahun 2012 kredit bermasalah milik Bank Tabungan Nasional mencapai angka 4,09% (sudah mendekati 5%).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dan analisa data yang dilakukan, maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Kebijakan kredit yang dikeluarkan oleh pihak manajemen bank diperlukan untuk menentukan jumlah DPK yang dapat disalurkan bank melalui pinjaman atau kredit dan mengendalikan jumlah kredit bermasalah. Dalam menyalurkan kredit, bank perlu menentukan kebijakannya dengan baik. Menurut Fitria dan Sari (2012), kebijakan pemberian kredit menggunakan konsep dengan prinsip 5C yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition.
  2. Peningkatan jumlah DPK pada bank cenderung meningkatkan LDR dan menurunkan NPL. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah dana yang dihimpun bank dari masyarakat, semakin banyak pula proporsi dana tersebut yang disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman atau kredit, serta semakin berkurangnya kredit bermasalah yang dihadapi oleh bank. Untuk menghindarkan NPL yang tinggi dari penyaluran kredit yang tidak efisien, perlu dipertimbangkan alokasi dana yang efisien seperti penyaluran kredit yang dapat memberikan return yang tinggi dengan NPL yang rendah (Utomo, 2008).
  3. Hubungan antara DPK, LDR, dan NPL yang disimpulkan diatas adalah tidak absolut. Banyak faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hubungan tersebut. Menurut Perry Warjiyo (2004), dalam kenyataannya perilaku penawaran kredit perbankan tidak hanya dipengaruhi oleh dana yang tersedia yang bersumber dari DPK (Dana Pihak Ketiga), tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan kondisi perbankan itu sendiri seperti permodalan atau CAR (Capital Adequacy Ratio), jumlah kredit macet atau NPL (Non Performing Loan), dan LDR (Loan Deposit Ratio) (Irma, 2011) .

Daftar Pustaka

Adriyanti, R. 2011. Pengaruh Non Performing Loan and Loan To Deposit Ratio Terhadap Return On Assets Pada Bank BUMN di Indonesia. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Aqidah, N. A. 2011. Implikasi Kebijakan Pemberian Kredit dan Pengaruh Loan To Deposit Ratio Terhadap Non Performing Loan Pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Makasar. Universitas Hasanuddin, Makassar

Ariyanti, L. E. 2010. Analisi Pengaruh CAR, NIM, LDR, NPL, BOPO, ROA dan Kualitas Aktiva Produktif Terhadap Perubahan Laba pada Bank Umum di Indonesia. Universitas Diponegoro, Semarang.

Fitria, N. Dan Sari, R.L. 2012. Analissi Kebijakan Pemberian Kredit dan Pengaruh Non Performing Loan Terhadap Loan To Deposit Ratio Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Cabang Rantau, Aceh Tamiang. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Galih,T. A. 2011. Pengaruh Dana Pihak Ketiga, CAR, NPL, ROA, dan LDR terhadap Jumlah Penyaluran Kredit pada Bank di Indonesia. Universitas Diponegoro, Semarang.

Kusumawati, D.E. 2008. Pengaruh Perubahan Giro Wajib Minimum dan Inflasi Terhadap Penyaluran kredit Investasi Sera Perannya Pada Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Laporan Keuangan Bank BUMN Tahun 2012. www.idx.go.id. Diakses Pada 06 Juli 2013.

Nusantara,A.B. 2009. Analisis Pengaruh NPL, CAR, LDR, dan BOPO terhadap Profitabilitas Bank. Universitas Diponegoro, Semarang.

Perkasa, P. P. 2007. Analisis Pengaruh Rasio-rasio Keuangan Terhadap Kinerja Bank Umum di Indonesia. Universitas Diponegoro, Semarang.

Pratama, B.A. 2010. Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Penyaluran Kredit Perbankan.Universitas Diponegoro, Semarang.

Raharja, S. 2011. Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Suku Bunga Deposito Bank Umum di Indonesia. Universitas Dipenogoro, Semarang.

Rohaeni, Heni. 2009. Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga dan Kredit Bermasalah Terhadap Laba. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Soebagio, H. 2005. Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Non Performing Loan (NPL) Pada Bank Umum Komersial. Universitas Dipenogoro, Semarang.

Undang – Undang No. 10 Tahun 1998. www.bi.go.id. Diakses Pada 07 Juli 2013.

Utomo, A.P. 2008. Pengaruh Non Performing Loan Terhadap Kinerja Keuangan Bank Berdasarkan Rasio Likuiditas, Rasi Solvabilitas, dan Rasio Profitabilitas pada PT Bank Mandiri (Persero), Tbk. Universitas Gunadarma, Jakarta.

PERHITUNGAN BUNGA DAN PENYELESAIAN KALAH KLIRING

Dalam menghitung bunga pada produk di Bank (kredit, deposit) , maka berlaku rumus umum :

Image

Rumus di atas adalah untuk menghitung bunga pada loan atau kredit. Sedangkan untuk deposit, maka akan berlaku rumus :

Image

Dengan HB adalah hari bunga, sementara i adalah besar bunganya.

Dalam perhitungan bunga, terdapat tiga metode penghitungan, yaitu :

  1. Saldo Harian
  2. Saldo Rata – Rata
  3. Saldo Terendah

Bank menghitung metode perhitungan Bunga setiap bulannya. Proses yang harus dilakukan Bank ada dua, yaitu Akhir Harian dan Akhir Bulan. Pada akhir harian, Bank hanya merekapitulasi saldo saja, sedangkan jika akhir bulan, yang dihitung bank ada tiga, rekapitulasi saldo, penghitungan bunga, dan penetapan saldo awal.

Berikut adalah contoh perhitungan bunganya. Atun membuka tabungan dengan bunga 10% di Bank Karman dengan rincian transaksi sebagai berikut :

5/6 Setor tunai 10 juta

7/6 Ambil Tunai 2 juta

10/6 Pindah buku kredit dari deposito 15 juta

17/6 Pindah buku debit tabungan Jono 5 juta

25/6 Pindah buku debit tabungan Ali (Bank Sit)i sebesar 5 juta

26/6 Pindah buku kredit Bilyet Giro Jono (Bank Siti) sebesar 20 juta.

Dengan metode saldo harian, langkah pertama adalah merekapitulasi saldonya. Berikut adalah rekapitulasi saldonya :

Image

Langkah kedua yaitu perhitungan bunganya. Dengan menggunakan metode saldo harian, maka berikut adalah penghitungannya :

Image

Pada tanggal 30 Juni atau setiap akhir bulan harus ditambah dengan 1 karena jika tidak ditambah dengan 1 maka pada tanggal 30 Juni tidak dihitung bunganya. Karena dia harus tetap dihitung bunganya pada perhitungan hunga, maka setiap akhir bulan selalu ditambah 1. Jumlah dari saldo bunga per transaksinya di atas adalah bunga sebelum pajak. Hasil penjualan di atas adalah sebesar 144. 382. Jika menggunakan metode saldo terendah, maka penghitungannya hanya pada akhir bulan, jika berdasarkan transaksi atas, yaitu dengan rumus :

Image

Pada saldo terendah, nominal yang digunakan adalah nominal saldo yang paling rendah di rekapitulasi saldo di atas, yaitu 8.000.000. sedangkan jika menggunakan saldo rata – rata, maka rumus yang digunakan dengan transaksi di atas adalah :

Image

Rata – rata saldo adalah seberapa lama dana itu mengendap di Bank. Hasil dari perhitungan tersebut adalah bunganya, namun itu bunga sebelum pajak. Sedangkan untuk menghitung berapa saldo pada awal bulan berikutnya, maka saldo bunga harus dikalikan dengan pajak, yaitu pajak penghasilan. Rumusnya adalah :

Image

Sehingga hasilnya adalah bunga setelah pajak. Saldo akhir ditambah dengan bunga setelah pajak akan menjadi saldo awal pada bulan berikutnya, dalam transaksi ini berarti hasil dari penjumlahan saldo akhir dengan bunga setelah pajak akan menjadi saldo awal pada bulan Juli. Jika dalam hal kredit atau pinjaman biasa, maka Bank biasanya menggunakan metode saldo harian, sedangkan untuk pelajar, maka Bank menggunakan metode saldo terendah.

Pada tanggal 30 Juni, saldonya menjadi 33 juta. Pada tanggal 1 Juli, tabungan menjadi 33 Juta ditambah dengan saldo bunga akhir setelah dipotong pajak. Itu pada tabungannya. Selain itu, untuk depositonya menjadi berkurang 15 juta. Yang berpengaruh lagi terhadap transaksi adalah bilyet giro, Karena bukan dari rekening sendiri maka berpengaruh pada RK pada BI. Tadi Atun, nasabah Bank Karman akan mengirim uang ke Ali yang menjadi nasabah di Bank Siti, maka tabungannya Atun berkurang karena transaksi harus lewat kliring, maka RKBI Bank Karman pun berkurang sebesar 5 juta. Yang berpengaruh lagi yaitu Giro dari Jono, Banknya Bank Siti bertambah 20 juta. Pada transaksi pengiriman, Karena pengirimannya sesama bank, sesama tabungan, maka tabungan Atun berkurang 5 juta ke tabungannya Jono sehingga tabungannya Jono bertambah. Pada transaksi ambil tunai, yang berpengaruh Kas, Kasnya berkurang sebesar 2 juta. Perlu dicatat jurnalnya agar mengetahui aliran dananya.

Setiap hari, yang dilakukan oleh bank adalah merekapitulasi saldo sampai menjadi neraca. Akun tabungan di neraca terdiri dari tabunga Atun, tabungan Jono, dan tabungan – tabungan dari nasabah lain. Jika satu cabang. Jika terdiri dari banyak cabang, maka tabungannya merupakan jumlah tabungan dari Bank – Bak cabang yang lain.

Bank Siti memiliki deposit sebesar 300 juta. Excess Reserved nya ditentukan oleh Bank Siti sebesar 2%. Maka Rekening Koran pada Bank Indonesia adalah sebesar 30 juta yaitu hasil dari = (8% x 300 juta) + (2% x 300 juta) . sedangkan Bank Karman memiliki deposit sebesar 100 juta. Excess Reserved nya ditentukan oleh Bank Karman sebesar 4%. Maka Rekening Koran pada Bank Indonesia adalah sebesar dari 12 juta yaitu hasil dari hasil dari = (8% x 100 juta) + (4% x 100 juta). Berikut tabel transaksi kliring

Image

Semua yang ada di Bank Siti merupakan surat – surat yang dikirimkan oleh Bank Karman. Sedangkan surat – surat yang ada di Bank Karman merupakan surat – surat yang dikirimkan dari Bank Siti. Surat – surat ini dikirimkan melalui BI. Tidak semua surat – surat di atas disetujui. Bank Siti menolak G dan X sedangkan Bank Karman menolak A dan E. Tolakan ini terjadi pada sore hari, sedangkan pengiriman surat – surat terjadi pada pagi hari. Berikut adalah tabel saldo Rekening Koran Bank Siti dan Bank Karman sebelum terjadi tolakan kliring.

Image

Hasil sementara pada Bank Siti adalah positif 15, artinya dia menang kliring, sementara Bank Karman negatif 15, sehingga ia kalah kliring. Tapi ini sebelum terjadi penolakan kliring.

Setelah adanya tolakan kliring, maka tabel saldo Rekening Koran Bank Siti dan Bank Karman menjadi berikut ini :

Image

Saldo pada Bank Siti setelah adanya tolakan kliring menjadi positif 10, artinya Bank Siti menang kliring sehingga Rekening Koran pada Bank Indonesia bertambah dari 30 juta dmenjadi 40 juta. Sedangkan Bank Karman menjadi negatif 10, artinya dia kalah kliring dan harus menutupinya dari rekening Koran pada Bank Indonesia untuk menutupi kalah kliring yaitu 12 juta – 10 juta = 2 juta. Karena dana di Rekening Bank pada BI tersisa 2 juta dan kurang 6 juta, jadi dia harus melakukan call money dengan meminjam dana dari Bank Siti yang memiliki kelebihan dana untuk menutupi kekurangan dana dia. Sehingga dana dari Bank Siti pun berkurang sebesar 6 juta menjadi 34 juta sedangkan dana RKBI Bank Karman bertambah menjadi 8 juta.

KONSEP OPERASIONAL BANK I

Image

Dari gambar di atas, fungsi Bank dilihat dari neracanya dibagi menjadi dua, yaiktu Passiva yaitu sumber dana atau source of fund, serta Asset, yaitu penggunaan atau pengalokasian dana atau use of fund. Di kolom passiva, terdiri dari tiga pos besar yang merupakan sumber dana utama bank, yaitu

1. Deposit, yaitu simpanan masyarakat yang terdiri dari :

  • Saving Deposit, berupa tabungan
  • Demand Deposit, berupa giro
  • Time Deposit, berupa deposito

2.Sekuritas, terdiri dari :

  • Obligasi
  • Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI)
  • Pinjaman Holding (Pinjaman Perusahaan)

3. Capital, terdiri dari :

  • Setoran modal
  • Retained earning (hasil operasi)
  • Deviden

Hasil dari laba operasi – returned earning adalah hasil operasi, sesanya dibagi berupa deviden ke pada para pemegang saham.

Untuk mendapatkan source of fund, Bank harus mengeluarkan cost of fund, atau biaya dana berupa i1 pada deposit, i2 pada sekuritas, dan i3 pada capital sebagai imbalan atau iming – iming agar masyarakat mau menanamkan kelebihan dananya di Bank melalui tiga pos besar tersebut. Dalam Bank, capital adalah dana pihak pertama, kemudian sekuritas adalah dana pihak kedua, sedangkan deposit adalah dana pihak ketiga. Dana pihak ketiga harus yang paling besar jumlahnya di Bank. Jika dana pihak ketiga lebih besar dibandingkan sekuritas ataupun capital, maka Bank dapat dianggap sehat. Namun, jika sekuritas atau capital lebih besar dari dana pihak ketiga atau deposit, maka Bank pun dikatakan tidak sehat dan bisa segera dilikuidasi.

Pada kolom Asset atau penggunaan / pengalokasian dana terdiri atas :

1. Uang Tunai (Cash Reserve), terdiri dari :

  • Cash on hand
  • Simpanan di BI berupa rekening Koran pada Bank Indonesia (RKBI)

2. Loan (Pinjaman Kredit)

3. Sekuritas (yang dibeli), terdiri dari :

  • Obligasi
  • Saham

4. Other Asset

Dana yang diperoleh oleh Bank harus diinvestasikan atau diputar sehingga Bank pun mendapat penghasilan dari keuntungan tersebut. pada Loan, Bank akan mendapat i4, sehingga i4 pun harus lebih besar daripada i1, i2, dan i3 karena kalau tidak, maka Bank tidak mendapat keuntungan apa – apa bahkan rugi. Bank menerima simpanan masyarakat dan menyalurkan dana dalam bentuk kredit merupakan fungsi Bank sebagai Financial Intermedia.Selain itu, pada sekuritas yang dibeli oleh Bank, Bank mengharapkan keuntungan berupa i5 sebagai keuntungannya.

Regulasi Asset

Struktur passiva tidak pernah ada regulasinya. Yang ada regulasinya adalah pada bagian Asset-nya. Regulasinya adalah :

  1. Likuiditas

Ada dua regulasi menyangkut likuiditas, yaitu pada :

  1. Kas = Jumlahnya terserah, sesuai dengan historical Bank-nya
  2. RKBI (Rekening Koran Bank Indonesia) = Legal Reserve Requirement, yaitu minimal 8% dari depositnya.

Fungsi RKBI ini ada dua, yaitu :

a. Likuiditas = juika lebih kecil dari 8%, maka Bank tersebut tidak likuid sehingga harus dilikuidasi

b. Untuk melakukan kegiatan kliring

2. Menyangkut di sisi Loan

Nama aturannya adalah LDR atau Loan to Deposit Ratio yaitu bahwa Bank dapat menyalurkan Loan maksimal 110%. Rumusnya adalah

Image

Misalkan jika loan 110, deposit 100, maka capital harus 10 supaya LDR-nya sesuai sehingga Bank dapat menyalurkan Loan secara maksimal.

Bagian ini memiliki dua arti, yaitu :

a. Menyangkut Pruden Bank. Pruden itu terpercaya, esensi dari kehati – hatian. Artinya setiap pinjaman yang disalurkan Bank wajib melibatkan capitalnya. Jika Bank menyalurkan pinjaman dan pihak peminjam tidak bisa mengembalikan pinjaman itu, maka Bank yang harus menanggungnya. Lancar tidaknya pihak peminjam membayar angsuran pinjaman disebut Kolektibilitas.

b. Multiplier. Jadi Bank juga berperan sebagai lembaga pengganda nilai uang. Misalkan dana yang diperoleh 100 juta, dapat dia salurkan menjadi 110 juta walaupun 10 juta di ambil dari modal. Bank harus punya modal yang cukup jika Bank ingin menyalurkan kredit.

3. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Bank harus punya kecukupan modal untuk menyalurkan kredit. Selain kecukupan modal, rasio lain tentang kecukupan modal namanya Capital Adequacy Ratio (CAR). Artinya Bank harus punya modal yang cukup untuk melakukan investasi, mengalokasikan dana sesuai dengan resikonya masing – masing. Misalkan Bank menyalurkan 100 juta dengan resiko 80% yang berarti ada kemungkinan resiko 80% uangnya tidak kembali. Total Risk nya sebesar 80 juta yang akan ditanggung oleh Bank dari 100 juta yang disalurkan. Ini yang dinamakan ATMR atau Aktiva Tertimbang Menurut Resiko. Semua ATMR harus dijamin dengan kecukupan modal minimal 20%. Rumus dari CAR itu sendiri adalah

Image

Pada akun pasiva di neraca Bank, jika bagian dari Pasiva itu bertambah, maka akan bertambah disisi kredit, sedangkan jika berkurang akan disisi debit. Sementara Aktiva, jika bertambah disisi debit, jika berkurang disisi kredit. Prinsip ini tidak jauh berbeda dengan prinsip akuntansi. Sebagai contoh penerapannya, Atun menyetor secara tunai sebesar 50 juta untuk tabungan. Dari terminologi ini berarti Bank mendapat uang tunai. Atun membuka tabungan secara tunai. Rekening yang berpengaruh adalah kas dan saving deposit / tabungan. Maka, Bank Karman akan mencatat Kas di debit dan saving deposit atau tabungan Atun di kredit masing – masing sebesar 50.000.000. Kas ada disisi aktiva, jika bertambah maka akan di debit, sedangkan saving deposit ada di sisi pasiva, jika bertambah maka akan di kredit.

Kasus lain jika Atun dari uang tadi melakukan pemindahbukuan dari tabungan ke deposito sebesar 25 juta, maka Bank Karman akan mencatat saving deposit atau tabungan Atun di debit sedangkan deposito Atun di kredit. Karena pindah buku tidak berpengaruh pada kas, maka yang berpengaruh hanya tabungan dan deposit saja. Deposit ada disisi pasiva, jika bertambah  maka akan bertambah di sisi kredit. Tabungan juga berada disisi pasiva. Karena Atun ingin memindahbukukan tabungannya menjadi deposito, maka tabungan pun berkurang sebesar 25 juta sehingga tabungan pun berkurang di sisi debit.

KLIRING

Berikut adalah ilustrasi mengenai kliring. Ada 4 Bank misalkan Bank Lola, Bank Amand, Bank Rizal, dan Bank Toni di satu daerah.Ssetiap hari mereka suka saling mengirim surat. Biasanya pengiriman surat itu dilakukan pagi hari, sedangkan pada sore harinya mereka menerima balasan dari surat itu. Yang mengirim surat tersebut adalah kurir dari masing – masing Bank. Akhirnya para kurir ini pun menentukan tempat untuk bertukar surat di warung tempat mereka biasanya makan siang. Namun, karena tempat itu dijadikan tempat penukaran surat, dan kurirnya yang biasanya makan siang disitu jadi hanya membeli kopi, maka pemilik warung pun marah karena merasa warungnya lama kelamaan akan rugi. Akhirnya, pemilik warung mengharuskan kurir – kurir tersebut menyetor uang kepada pemilik warung itu. Peristiwa inilah yang dinamakan kliring, sedangkan pemilik warung adalah Bank Indonesia. surat yang dikirim oleh kurir – kurir tadi namanya warkat.

Jika seseorang punya tabungan, bisa diambil tunai (lewat teller atau lewat ATM), bisa dipindahbukukan. Semua yang dalam bentuk deposito, bisa dipindahbukukan, bisa di tunai. Setelah periode tertentu, semua yang dalam bentuk giro, bisa pakai cek atau bilyet giro. Cek itu atas unjuk, sementara bilyet giro atas nama. Giro itu bisa ditunaikan, bisa dipindahbukuan, sementara bilyet giro hanya bisa dipindahbukuan.

Ilustrasi, Joko adalah seorang eksportir. Atun adalah seorang pengusaha. Atun adalah nasabah Bank Karman, sementara Joko merupakan nasabah dari Bank Siti. Suatu saat, Joko melakukan kerjasama dengan Atun karena Joko ingin mengekspor kerupuk dari perusahaan Atun. Joko pun membayar sebesar 50 juta dengan cek. Joko menyimpan uang dalam bentuk rekening giro ke bank Siti. Cek nya Bank Siti diterima oleh Atun. Seharusnya cek yang Atun terima dicairkan ke Bank Siti. Tapi, Atun ingin dicairkan di Bank Karman dan ingin dimasukan ke tabungan Atun. Bank Karman menagih ke Bank Siti karena cek dari Joko. Namun, Bank Siti bilang hanya boleh lewat BI. BI bersedia sebagai perantara jika Bank Siti dan Bank Karman menyimpan uang ke BI dalam bentuk rekening Koran pada BI (RKBI) seperti yang dijelaskan sebelumnya. Akhirnya Bank Karman menagih ke Bank Siti lewat BI. Bank Karman mengirim surat ke Bank Siti. Pada saat BI menerima surat dari Bank Karman, maka dana Bank Karman akan bertambah sementara dana Bank Siti berkurang. Maka Bank Karman akan mencatat RKBI (Bank Karman) pada debit dan tabungan Atun pada kredit masing – masing senilai 50.000.000. sedangkan Bank Siti akan mencatat Giro Joko di debit dan RKBI (Bank Siti) di kredit masing – masing sebesar 50.000.000.

Surat yang dikirim oleh Bank Karman adalah Nota Debit keluar, sedangkan yang diterima Bank Siti adalah nota debit masuk. Jika ada nota debit keluar, maka rekening Koran pada BI akan bertambah, sedangkan jika menerima nota debit masuk, rekening Koran pada BI akan berkurang.

Uang deposit pada BI adalah sebagai jaminan. Besarnya 8%, itu ditentukan oleh BI karena BI adalah sebaagi regulator.

Akhirnya Joko dan Atun mempunyai bisnis yang tetap. Diilustrasikan kalau Joko dan Atun pacaran. Suatu saat, Atun ulang tahun. Joko ingin mengirim tabungannya yang di Bank Siti sebesar 20 juta ke Atun sebagai hadiah ulang tahun. Maka tabungan Joko yang ada di Bank Siti akan berkurang. Siti mengirim surat ke BI. RKBI Bank Siti akan berkurang sebesar 20 juta. Suratnya namanya nota kredit. Artinya Bank Siti memindahkan dananya ke Bank Karman. Bank Karman pun menerima surat berupa nota kredit untuk tabungannya Atun. Maka RKBI pada Karman akan bertambah, sedangkan tabungan Atun pun juga bertambah. Surat yang dikirimkan Bank Siti adalah nota kredit keluar, sedangkan surat yang diterima Bank Karman adalah nota kredit masuk. Jika ada nota kredit keluar, maka saldo di RKBI akan berkurang, sedangkan jika ada nota kredit masuk, pada saldo di RKBI akan bertambah.

Suatu saat, Joko memberikan cek ke Atun. Atun mencairkannya di Bank Karman. Pada saat Bank karman mengirim surat, maka dana Bank Siti di BI otomatis berkurang. Ternyata, Giro nya Joko tidak sampai 50 juta, hanya ada 10 juta. Maka Bank Siti akan mengirim surat kembali ke BI. Nama suratnya adalah Tolakan Kliring. Jadi dananya Bank Siti tidak jadi berkurang, dan dana Bank Karman di BI tidak jadi bertambah. Tolakan Kliring ini terjadi dengan tiga kondisi, yaitu jika saldo tidak cukup, jika cek rusak, ataupun jika tanda tangan tidak sesuai.

Image

Menang atau kalah kliring dilihat dari penjumlahan keseluruhan nota dan tolakan kliring. Jika tolakan kliring dilakukan oleh Bank Siti, maka dana Bank Siti menjadi bertambah atau + , sedangkan dana Bank Karman berkurang atau – . hasil dari penjumlahan di atas, jika + atau positf, maka Bank tersebut menang kliring. Namun sebaliknya, jika – atau negatif, maka Bank tersebut kalah kliring.

Dana setiap Bank di BI minimal 8% dari deposit. Misalkan, jika depositnya 100 juta, Bnak wajib menyimpan dana di BI minimal 8 juta. Tapi, jika Bank ingin menyimpan lebih juga bisa. Misalkan Bank menyimpan 10 juta. Yang 8 juta namanya Reserve Requirement sedangkan 2 juta yang menjadi kelebihannya dinamakan Excess Reserve. Alasan Bank menyimpan dana lebih di BI adalah untuk berjaga – jaga seandainya dia kalah kliring. Andaikan Bank ini kalah kliring, berarti dana Bank ini di BI akan berkurang. Bank sudah menyimpan 10 juta di BI, namun jika kalah kliring sebesar 4 juta, maka cadangan dana di BI pun menjadi 6 juta. Padahal, batas minimal cadangan di BI itu 8% dari total deposit, yaitu 8 juta. Berarti kurang 2 juta untuk mencapai jumlah minimum cadangan dana di BI. Kekurangan 2 juta ini dapat di atasi dengan meminjam ke Bank lain. Pinjaman Bank lain ini namanya call money. Kalau pinjaman biasa, bunganya itu per annuity, tapi kalau call money itu overnight, yaitu per malam dengan bunga yang sama. Kalau bunga di bank itu 10% per tahun kalau kredit biasa, karena dia call money, maka bunganya tetap 10% namun per malam. Begitu ada Bank yang terkena call money dalam jumlah yang besar, pasti akan mempengaruhi likuiditasnya. Jika terus berkurang, maka Bank pun harus dilikuidasi. Periode Bank boleh setoran adalah 10 hari atau 2 minggu. Jadi Bank harus bisa memprediksikan berapa kira – kira uang yang harus dia simpan di RK pada BI.

Besarnya RK pada BI dipengaruhi dua hal, yang pertama dari jumlah deposit. Deposit terdiri dari tiga, yaitu tabungan, giro, dan deposito. Jumlahnya berubah  tiap saat. Tingkat perubahannya bisa dilihat dari grafik di bawah ini.

Image

Dari gambar grafik di atas terlihat bahwa deposito cenderung tetap, tidak terjadi perubahan yang terlalu signifikan tiap saatnya. Namun, yang paling sering berubah tiap saat adalah giro.

Jadi, RK pada BI merupakan ukuran yang paling sentral dari sebuah likuiditas dari Bank. Selain diukur dari jumlah deposit, RK pada BI juga diukur dari jumlah transaksi kliring. Dan transaksi kliring tejadi jika beda Bank namun masih dalam satu wilayah yang sama.

Jika seandainya Atun menjadi nasabah Bank Siti yang berada di Jakarta, sementara Joko menjadi nasabah bank BRI di Wamena dan Atun ingin mengirim tabungannya ke Joko, tidak bisa langsung kliring seperti kasus sebelumnya, karena syarat kliring adalah berada di wilayah yang sama. Sementara dari wilayahnya saja berbeda. Jadi, ada dua cara untuk melakukan pengiriman. Caranya tergambar pada gambar berikut ini :

Image

Cara pertama adalah melalui jalur ABC. Pertama, Bank Siti di Jakarta melakukan transfer ke Bank Siti di Wamena. Kemudian, Bank Siti Wamena akan melakukan proses kliring ke cabang BI di Wamena. Lalu, cabang BI di Wamena pun melakukan proses kliring ke BRI Wamena, tempat dimana Joko menjadi nasabahnya. Cara kedua adalah melalui jalur DEF. Bank Siti di Jakarta melakukan proses kliring ke BI yang ada di Jakarta. Kemudian BI yang ada di Jakarta melakukan proses kliring ke BRI Jakarta. Lalu, BRI Jakarta melakukan transfer ke BRI yang ada di Wamena tempat Joko menjadi nasabahnya.

Grafik di atas mencerminkan jasa yang diberikan Bank. Ketika melakukan jasa, bank akan memperoleh fee.  Kalau dari general operasional dia memberikan kredit, maka akan memperoleh interest. Jadi ada dua penghasilan Bank, yaitu Fee Base dan Interest base. Kalau interest base dengan memberikan kredit, selisihnya itu di dapat dari i4 yang harus lebih besar dari i1, i2, dan i3 yang diperoleh dari sumber dana, sementara fee base adalah penghasilan yang diperoleh dari kegiatan memberikan pelayanan pengiriman dan penagihan antar bank. Kegiatan transaksi antar Bank dinamakan Lalu Lintas Moneter. Jadi Bank menerima simpanan masyarakat dalam bentuk tabungan, giro, deposito, menyalurkan dalam bentuk kredit kepada masyarakat yang membutuhkan, dan memberikan pelayanan lalu lintas moneter lewat mekanisme transfer dan kliring. Masalahnya. Ada banyak salah tafsir mengenai kliring dan transfer karena transfer belum tentu kirim uang, Kliring belum tentu hanya menagih saja, keduanya bisa menagih maupun mengirim uang.

WORLD FINANCIAL FLOW

Image

Sebelum adanya bank, kegiatan pinjam meminjam dilakukan secara langsung (direct). Ini dinamakan Double Coincidence. Untuk melakukannya, ada dua syarat vital yang harus dimiliki, yaitu kenal serta memiliki dananya. A sebagai pihak yang kelebihan dana, tentu saja hanya mau meminjamkan uangnya kepada orang yang dikenalnya, karena kalau A hanya meminjamkan uangnya tanpa melihat siapa orangnya dan mempelajari latar belakangnya, bukan tidak mungkin resiko penipuan akan tinggi. Di lain pihak, B sebagai pihak yang ingin meminjam uang tentunya harus mencari pihak yang memiliki kelebihan dana. Jadi bukan hanya tergantung pada kenal atau tidaknya dengan suatu pihak, tetapi harus ada dananya. Itulah yang disebut pinjam meminjam secara langsung.

Image

Ketika sudah ada Bank, dua faktor yang ada di kegiatan pinjam meminjam secara langsung atau Double Coincidence bukanlah yang menjadi faktor mutlak lagi karena Bank merupakan kegiatan pinjam meminjam secara tidak langsung, asal ada yang menyimpan uangnya di Bank, maka Bank bisa mengalirkannya kepada yang membutuhkan tanpa harus pihak yang menyimpan uangnya di bank tahu keada siapa uangnya berputar. Itulah sebabnya Bank disebut juga Financial Intermedia atau Perantara Keuangan. Bank dapat bertahan sebagai pilar ekonomi karena Bank tidak harus memiliki faktor – faktor yang mutlak harus dimiliki oleh kegiatan pinjam meminjam secara langsung.Di dalam Undang – Undang, Bnak berfungsi sebagai lembaga yang menyimpan surplus dan menyalurkan kepada yang minus.

Image

Pada saat A menabung kelebihan dananya di Bank, pasti A mendapat bunga tabungan yang diberi symbol i1. Dan pihak B, ketika ingin meminjam uang karena B kekurangan dana, maka B akan menerima bunga yang harus dibayarkan beserta dengan jumlah yang dipinjam kepada Bank yang diberi symbol i2.

Selisih dari i2 dikurangi i1 itulah yang akan menjadi keuntungan Bank. i2 harus lebih besar dari i1 karena dari i2 ini diharapkan kita dapat mengembalikan dana yang diinvestasikan A beserta dengan bunganya serta untuk mendapat keuntungan Bank. Tapi, bukan berarti i2 bersifat konstan. i2 bisa turun pada saat – saat tertentu, namun penurunan i2 tetap tidak boleh menjadikan i2 lebih kecil dari i1 karena jika i2 lebih kecil dari i1, maka Bank susah untuk mendapatkan keuntungan, begitupula dengan A yang tidak mendapat keuntungan dari hasil investasi dia sehingga tidak ada lagi orang yang mau menabung di Bank.

Ada tiga motif seseorang  ingin memperoleh uang, yaitu :

  1. Untuk Transaksi = untuk memenuhi kebutuan hidup
  2. Berjaga – jaga = supaya ada alternative saat mengalami situasi yang tidak menguntungkan
  3. Spekulasi = untuk mendapatkan profit yang lebih.

Image

Setelah pihak A yang kelebihan dana menginvestasikan ke Bank dan pihak B yang kekurangan dana meminjam ke Bank, Bank harus memutar uang pihak A supaya mendapatkan keuntungan beserta bunga untuk tabungan A. Selain dengan meminjamkan uang kepada pihak B yang kekurangan dengan tambahan bunga pinjaman, Bank pun membeli saham dan atau obligasi di Pasar Modal untuk memperoleh dana yang lebih dan sebagai salah satu cara Bank menginvestasikan uang nasabahnya.

Image

Ada kondisi dimana orang – orang tidak menjadikan Bank sebagai alternatif investasi ataupun alternatif untuk kegiatan pinjam meminjam. Saat i1 lebih besar dari i3 , maka pihak A yang memiliki kelebihan dana lebih memilih untuk menginvestasikan dana yang ia miliki dengan membeli saham di pasar modal karena lebih menguntungkan jika ia lebih menginvstasikan dengan membeli saham karena ia dapat memperoleh deviden. Begitu pula pada pihak B yang kekurangan dana, jika i2 lebih besar daripada i3 , maka pihak B lebih memilih untuk menjual obligasi dibandingkan meminjam di Bank.

Dalam kasus lain, jika A membeli saham B, pihak A akan mendapat deviden. Deviden dibagi setiap akhir periode akuntansi. Ketika ada situasi yaitu harga saham B naik, A bisa mendapat keuntungan dengan menjual saham yang ia miliki dan itu yang dinamakan Capital Gain. Jika dalam kondisi yang sama namun A tidak mau menjual sahamnya, maka disebut Potential Gain. Jika pihak B tidak mau orang lain memiliki saham di perusahaannnya, maka pihak B dapat menerbitkan surat hutang obligasi sehingga dia mendapat bunga berupa persentase yang dinamakan diskonto. Contohnya Hari ini obligasi dijual seharga Rp 9.000.000 . jika dijual pada tiga bulan mendatang, maka harganya akan menjadi Rp 10.000.000 sehingga diskonto yang didapat dihitung dengan mengurangi harga di masa yang akan datang dengan harga pada saat ini kemudia dibagi dengan harga saat ini. Berdasarkan contoh di atas, dapat diketahui bahwa diskonto yang diperoleh sebesar 11,11% dari Rp 10.000.000 dikurangi dengan Rp 9.000.000 terlebih dahulu lalu dibagi dengan rp 9.000.000 sehingga menghasilkan diskonto sebesar 11,11% .

Image

Ada kalanya situasi pinjam meminjam mengalami satu kasus yang tidak menyenangkan. Jika suatu saat B meninggal, padahal dia belum mengembalikan uang yang ia pinjam, tentu A yang harus menanggung resikonya jika dilakukan secara direct. Namun, di dalam pinjam meminjam melalui Bank, maka Bank lah yang menanggung resiko itu atau yang dinamakan Risk Transfer. Misalkan pinjaman B sebesar 100 juta, maka Bank akan mengasuransikan pinjaman itu ke asuransi XYZ sehingga asuransi XYZ yang akan menanggungnya. Namun, Bank harus membayar iuran sebesar 1 juta yang dinamakan uang premi kepada asuransi XYZ setiap bulannya sehingga pinjaman B sebesar 100 juta akan ditanggung oleh asuransi XYZ.

Image

Jika seandainya asuransi XYZ hanya mampu menutup 20 juta dari 100 juta yang dibutuhkan Bank untuk menutupi pinjaman B, maka uang premi yang tadinya 1 juta akan turun menjadi 200 ribu.  Maka asuransi XYZ mengajak asuransi OPQ untuk bekerja sama dalam menutupi uang pinjaman B yang bernilai 100 juta. Karena asuransi XYZ hanya mampu membayar 20 juta, sehingga asuransi OPQ lah yang akan menanggung sisanya yaitu sebesar 80 juta. Untuk itu, asuransi XYZ harus membayar premi kepada asuransi OPQ sebesar 800 ribu sehingga sisa dari uang pinjaman yang tidak tertutupi oleh asuransi XYZ ditutupi oleh asuransi OPQ. Inilah yang dinamakan Resuransi.

Image

Jika seandainya asuransi OPQ hanya mampu menutupi 25 juta dari 80 juta yang dibutuhkan untuk menutupi pinjaman dari B, maka asuransi OPQ mengajak asuransi KLM untuk menutupi kekurangannya yaitu sebesar 55 juta sehingga asuransi OPQ harus membayar premi kepada asuransi KLM sebesar 550ribu. Inilah yang dinamakan Rektosesi. Namun, karena di Indonesia batasnya hanya sampai kepada reasuransi, maka asuransi OPQ membawa uangnya ke luar negeri untuk asuransi KLM yang berada di Singapura. Inilah yang dinamakan capital flight.

Image

Dikarenakan uang yang harus ditanggung asuransi KLM cukup besar, maka asuransi KLM harus memutar  otak untuk mendapatkan untung atau sumber dana tambahan. Oleh sebab itu, dengan premi yang ia terima, asuransi KLM menginvestasikan ke mana – mana, baik dengan membeli saham untuk capital gain maupun membeli obligasi. Selain itu, asuransi KLM membangun perusahaan besar yang dinamakan Manajemen Investasi (MI). Perusahaan MI lalu membuka anak cabang yaitu HI, XY, dan ZL. Kemudian HI membeli saham Bank City yang sudah diterbikan di pasar modal sebesar 20%. Kemudian XY juga membeli saham Bank City di pasar modal sebesar 20%. ZL pun melakukan hal yang sama namun dengan persentase yang berbeda yaitu sebesar 30%. Mengapa tidak ada yang di atas 30% per pihaknya? Karena di Indonesia ditetapkan peraturan bahwa dalam membeli saham, tidak boleh melebihi 35% oleh satu pihak. Itulah kenapa anak perusahaan HI, XY, dan ZL tidak bisa membeli saham di atas persentase 35%. Setelah saham Bank City dibeli oleh HI, XY, dan ZL, maka asuransi KLM mempunyai kendali penuh terhadap bank City karena jumlah saham yang sudah dibeli yaitu sebesar 80% karena HI, XY, dan ZL merupakan bagian dari asuransi KLM. Sehingga, asuransi KLM mampu menyuruh Bank City menggunakan asuransi XYZ, kemudia seterusnya hingga kembali lagi kepada asuransi KLM.

Image

Salah satu permasalahan yang cukup sering di alami bank adalah berkurangnya minat orang – orang untuk menabung di bank lantaran bunga yang terlalu tinggi sehingga Bank harus menemukan cara lain. Cara yang ditempuh bank adalah membuka PT. ABC yang bekerja sama dengan PT. AHS yang bergerak sebagai produsen motor untuk kredit motor atau untuk proses leasing. Mekanismenya yaitu jika B sebagai pihak yang ingin mengkredit motor, maka ia akan membayar kepada Bank City dengan bunga sebesar i2, lalu Bank City membayar kepada PT. ABC dengan bunga i4, setelah sebelumnya PT. ABC membayar secara lunas kepada PT. AHS. Lalu, keuntungan bank diperoleh dari i2 dikurang i4 sehingga i2 harus lebih besari dari i4.

Selain itu, Bank juga membuka PT. DEF sebagai penyalur kartu kredit. B pun membayar kepada bank City dengan tambahan bunga sebesar i2, lalu Bank membayar kepada PT. DEF dengan tambahan bunga sebesar i5. Kentungan Bank pun diperoleh dari selisih dari i2 dan i5 sehingga i2 pun harus lebih besar dari i5. Peminjam di Bank ternyata bukan hanya secara individu saja, yaitu dari perusahaan – perusahaan, salah satu contohnya adalah PT. Jasa Marga.

RANGKUMAN JURNAL (Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 2)

Judul Jurnal : AGRICULTURAL INSURANCE IN NIGERIA AND ITS ECONOMIC IMPACT

Penulis : Festus M. Epetimehin

Penerbit : Joseph Ayo Babalola University, Ikeji Arakeji, Nigeria

Publikasi : International Journal of Current Research Vol. 3, Issue, 12, pp.233-238, December, 2011

PENDAHULUAN

Pertanian adalah perkembangan penting yang memicu kenaikan peradaban manusia, dengan peternakan dari dijinakkan hewan dan tumbuhan (yaitu, tanaman) menciptakan surplus pangan yang memungkinkan pengembangan lebih padat dan masyarakat bertingkat. Menariknya, perekonomian Nigeria, selama dekade pertama setelah kemerdekaan cukup bisa digambarkan sebagai pertanian ekonomi karena pertanian menjabat sebagai mesin pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan (Ogen, 2003:231-234). Dari sudut pandang distribusi kerja dan kontribusi terhadap PDB, pertanian merupakan sektor unggulan. Selama periode ini Nigeria adalah produsen kedua terbesar di dunia dari kakao, eksportir terbesar kelapa sawit dan produsen terbesar dan eksportir minyak kelapa sawit. Nigeria juga pengekspor komoditas utama lainnya seperti kapas, kacang tanah, karet dan jangat dan kulit (Alkali, 197:15-16). Sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 60% dari PDB pada tahun 1960 dan meskipun ketergantungan petani Nigeria pada  alat tradisional dan metode adat pertanian, petani tersebut memproduksi 70% dari ekspor Nigeria dan 95% dari kebutuhan pangannya (Lawal, 1997:195).  Dalam upaya untuk mengatasi penyimpangan ini, pemerintah Nigeria sejak 1975 terlibat langsung dalam produksi komersial tanaman pangan. Pada tahun 1982 saja, Nigeria mengimpor 153.000 mt ton minyak sawit pada biaya 92 juta USD dan 55.000 mt ton kapas senilai 92 juta USD (Alkali, 1997:10). Antara 1973 dan 1980, total 7.070.000 ton gandum, 1,62 juta ton beras dan 431.000 ton jagung diimpor. Jadi, dari N47.8 juta di tahun 60an, biaya impor pangan di Nigeria naik menjadi N88.2 juta pada tahun 1970 dan N656, 527,0 juta pada tahun 1995 (Alkali, 1997:19-21) melihat table 3. Dalam anggaran tahun 1985, 20% dari total modal alokasi 1,06 miliar ke pertanian. Pemerintah dengan cepat menyatakan keinginan untuk memperkenalkan skema asuransi pertanian untuk mengamankan semua investasi di bidang pertanian. Pada tahun 1993, Nigeria membawa kepada pembentukan undang – undang NAIC (Nigeria Pertanian Insurance Corporation) melalui Keputusan Nomor 37 untuk melaksanakan fungsi-fungsi berikut:

(A) Untuk melaksanakan, mengelola dan Pertanian Skema asuransi, ditetapkan pada ayat 6 keputusan ini;

(B) Untuk mensubsidi premi yang dapat dibebankan pada tanaman terpilih dan kebijakan ternak dari hibah yang diperoleh dari Pemerintah Federal dan Negara dan Ibu Kota Wilayah Federal, Abuja;

(C) Untuk mendorong pemberi pinjaman institusi untuk meminjamkan lebih banyak untuk produksi pertanian dengan memperhatikan keamanan tambahan bagi pinjaman mereka yang disediakan oleh Korporasi;

(D) Untuk mendukung peningkatan produksi pertanian pada umumnya untuk meminimalkan atau menghilangkan kebutuhan untuk bantuan adhoc yang sebelumnya diberikan oleh Pemerintah selama bencana pertanian;

(E) Untuk menjalankan usaha asuransi dasar komersial yang normal dan tanpa subsidi premi asuransi sebagai dari bangunan, mesin, peralatan dan barang-barang lainnya yang merupakan bagian dari total investasi di pertanian dan mengasuransikan aspek operasinya melalui alur yang ditetapkan dengan reasuransi perusahaan yang terkemuka;

(F) Untuk mengoperasikan jenis bisnis asuransi yang mungkin diizinkan oleh Komisaris Asuransi pada premi yang kompetitif, dan

(G) Untuk melakukan sesuatu atau untuk melakukan transaksi yang mana pendapat Dewan dihitung untuk memfasilitasi kinerja karena fungsinya dalam keputusan ini.

Asuransi Pertanian

Pengambil bagian dari rangkaian nilai pertanian dapat menghindari resiko: untuk Misalnya, dengan memilih untuk tidak memilih tanaman tertentu atau tanaman yang mereka anggap beresiko tinggi untuk daerah di mana peternakan mereka berada. Mereka juga dapat mengurangi resiko melalui, misalnya, menanam tanaman hanya dalam kondisi yang sangat menguntungkan atau mengembangkan lebih lanjut  infrastruktur untuk meningkatkan irigasi atau meminimalkan efek embun beku. Terakhir, mereka dapat mentransfer semua atau bagian dari risiko kepada pihak ketiga melalui kontrak asuransi. Mereka juga dapat mengurangi pengaruh dampak keuangan dari risiko ini dengan menciptakan cadangan darurat dari keuntungan dalam beberapa tahun yang baik, bentuk dari asuransi diri.

Apa itu Asuransi Pertanian?

Secara umum, asuransi adalah bentuk manajemen risiko yang digunakan untuk melindungi diri terhadap kerugian kontinjensi. Definisi konvensional adalah transfer secara merata dari risiko kerugian dari satu entitas ke yang lain dalam pertukaran untuk premi atau jaminan dan kerugian kecil kuantitatif untuk mencegah kerugian yang besar dan menghancurkan. Asuransi pertanian adalah alat keuangan untuk pemindahan risiko produksi terkait dengan pertanian untuk pihak ketiga  melalui pembayaran premi yang mencerminkan biaya jangka panjang untuk perusahaan asuransi dengan asumsi risiko tersebut. Asuransi pertanian adalah jalur khusus dari asuransi properti yang diterapkan pada perusahaan pertanian. Kesulitan dalam mencapai diversifikasi yang memadai karena sifat dari risiko, asimetri informasi dalam underwriting, dispersi geografis produksi pertanian dan kompleksitas proses biologis produksi, yang membutuhkan keterampilan dan underwriting yang ahli.

Image

 

 

Image

 

 

Image

 

 

Image

 

 

Produk Asuransi Pertanian

Asuransi Tanaman

Output tanaman dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang pada banyak kasus yang tak terduga baik dari segi frekuensi kejadian dan tingkat keparahan. Bahaya yang paling serius termasuk kekeringan, banjir, angin badai dan infeksi hama. Lainnya termasuk kebakaran, terutama di bagian utara dari Negara tersebut. Tanaman pada bagian ini juga terekspos api yang menyebar dari kebakaran semak selama musim kemarau. Banjir dan curah hujan yang berlebihan merusak tanaman di daerah tepi sungai. Setiap tahun, petani dari Negara tersebut kehilangan jutaan naira sebagai akibat dari pengaruh faktor-faktor yang tidak diinginkan pada tanaman. polis asuransi tanaman menjamin ganti rugi atas kerugian yang diasuransikan yang dihasilkan dari faktor-faktor ini.

Kebijakan Asuransi Tanaman

Kebijakan The “All Risks”

Adalah kebijakan yang mencakup semua risiko kerugian fisik atau kerusakan pada tanaman disebabkan oleh bahaya tertanggung. Risiko yang paling umum yang rentan adalah kebakaran, banjir, angin, kekeringan dan hama.

Kebijakan Panen

Kebijakan panen akan menutupi kerugian sampai dengan nilai hasil panen yang diharapkan. Biasanya harga unit tanaman ditentukan sebagai persentase dari hasil diharapkan. Berbeda dengan “All Risks” kebijakan dimana ganti rugi berkaitan dengan kerugian aktual yang diderita oleh petani, kebijakan panen bisa disamakan dengan Kebijakan “nilai yang disepakat” dari asuransi laut yang menetapkan apa perusahaan asuransi telah setuju untuk membayar dalam hal klaim berdasarkan kebijakan tersebut.

Kebijakan Kredit

Asuransi kredit tanaman meliputi jumlah pinjaman yang diberikan kepada petani. Nilai pertanggungan kebijakan terbatas pada produksi petani biaya yang di atasnya pinjaman dilakukan. Kebijakan Kredit, seperti kebijakan “All Risks” dan Kebijakan Panen ini dapat diketahui dari segi ukuran ganti rugi pada saat asuransi dikontrak. Perbedaan utama lainnya adalah bahwa kebijakan kredit disediakan sebagai bagian dari program kredit yang lebih luas dalam promosi pertanian.  Tarif Premi, seperti biasa, diharapkan akan dihitung berdasarkan pengalaman kerugian, yang dalam kasus tanaman sangat tidak stabil

Kebijakan Asuransi Ternak

Ternak terutama, terkena risiko kematian yang disebabkan oleh berbagai jenis penyakit. Kerugian ternak dapat diminimalkan jika pemberian makan memadai dan layanan dokter hewean tersedia. Juga, penyebaran penyakit menular akan berkurang jika hewan atau ternak yang terinfeksi dapat dikarantina dan dijauhkan dari yang lain. karantina yang tersedia di mana terinfeksi yang dapat dijauhkan dari yang lain. Masalah underwriting asuransi ternak sangat besar. Tertanggung diharapkan untuk menyimpan catatan ternaknya dan juga memberitahu mereka untuk regular cross-checking. Informasi tersebut meliputi Nama dan alamat pemilik, jenis berkembang biak, sejarah hewan, riwayat penyakit, jenis kelamin, usia, berat badan dan nomor, dan tanda identifikasi

Perlindungan Lainnya

Perlindungan asuransi diperlukan untuk alat berat peralatan yang digunakan dalam usaha pertanian modern. asuransi perlindungan properti konvensional harus diambil untuk melindungi petani dari kerugian yang timbul dari kerusakan struktur tersebut. Kebijakan kecelakaan dan penyakit pribadi sangat penting untuk staf yang bekerja di peternakan. Jika seorang karyawan inti terluka atau jatuh sakit, itu akan mempengaruhi kegiatan pertanian yang dihasilkan dan m mengakibatkan penurunan volume produk. Dengan asuransi kecelakaan diri, petani dapat dibebaskan dari biaya retensi dari orang lain yang terampil.

Dampak Ekonomi Asuransi Pertanian

Dampak ekonomi dari asuransi pertanian dapat dikategorikan menjadi tiga: Dampak pada petani, dampak pada sistem kredit pertanian dan dampaknya terhadap negara sebagai satu unit.

Petani

Para petani merasa santai bahwa ia akan diberikan ganti rugi. Ini memotivasi dia lebih lanjut untuk mengeksplorasi dan memperluas kegiatannya yang akan menghasilkan hasil pertanian yang lebih besar. Asuransi juga berfungsi sebagai jaminan untuk memungkinkan para petani membeli modern peralatan dan fasilitas yang lebih modern yang akan meningkatkan output-nya.

Skema Kredit Asuransi Pertanian

Misalnya di Nigeria, Dana Skema Penjaminan Kredit Pertanian, yang telah direncanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian, dibatasi oleh ketidakmampuan Rata-rata petani untuk menyediakan keamanan yang diperlukan untuk pinjaman yang dapat  diberikan di bawah skema tersebut. Selain itu, sebagian besar dari petani tidak dapat memenuhi item berikut yang diperlukan yang disetujui oleh Skema Dewan Jaminan Dana Kredit Pertanian.

(A) biaya atas tanah di mana peminjam memegang kepentingan hukum atau hak untuk pertanian, atau biaya pada aset pada tanah termasuk aset tetap, tanaman atau ternak;

(B) biaya pada harta bergerak dari peminjam;

(C) kebijakan jaminan hidup, surat promes atau keamanan lainnya yang dapat dinegosiasikan;

(D) pangsa dan saham

(E) jaminan pribadi;

(F) setiap keamanan lain yang dapat diterima bank.

Ini jelas tugas berat yang mempunyai dampak sekarang yang terbatas dari skema kredit pertanian. Sebuah komprehensif asuransi pertanian yang diambil oleh petani akan mengganti permintaan sehingga meningkatkan dampak dari skema tersebut. Inspektur asuransi juga memastikan bahwa pinjaman yang diperoleh dari bank untuk usaha pertanian benar dimanfaatkan untuk tujuan yang benar, dengan memastikan bahwa pinjaman tersebut tidak dialihkan ke usaha lainnya, perusahaan asuransi tidak langsung bertindak sebagai penyuluh dari bank.

Asuransi pertanian dan Negara

Bencana yang menimpa petani mempunyai efek yang pada posisi keuangan bangsa. Petani yang menderita kerugian dari peristiwa bencana biasanya mencari pemerintah untuk bantuan keuangan. Asuransi bertindak sebagai insentif produksi yang pada tingkat makro meningkatkan produksi pangan negara sehingga mengurangi impor. Ini mendukung posisi keseimbangan pembayaran dari Asuransi Pertanian Negara, meningkatkan tabungan dan mendorong kerjasama antara pemerintah dan orang-orang, juga berfungsi sebagai ujung tombak pembangunan di daerah pedesaan pada khususnya dan negara pada umumnya. Bisa juga meringankan beban pada anggaran nasional sehubungan dengan bencana alam..

Kesimpulan dan Rekomendasi

Sementara asuransi pertanian pada dasarnya adalah sebuah kegiatan komersial, untuk melihat pemerintah memainkan peran dalam industri. Pemerintah memiliki kepentingan perspektif mempertahankan produktivitas bagi perekonomian dan menjaga kesejahteraan masyarakat pedesaan. Kehadiran Pemerintah dalam pasar mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh sektor swasta yang kadang-kadang enggan untuk memasuki segmen pasar karena tinggi biaya saat memulai, distribusi tinggi dan biaya administrasi dan kurangnya kapasitas yang disebabkan karena adanya kesulitan dalam memperoleh reasuransi. Dimana sektor swasta di pasar, sering menawarkan perlindungan pada  premi yang berada di luar kapasitas keuangan dari produsen kecil. Bila pemerintah memilih untuk intervensi di pasar asuransi pertanian, mereka dapat mengadopsi pendekatan yang berbeda. Menurut Bank Dunia baru-baru ini survei intervensi publik dalam asuransi pertanian dilakukan di 65 negara, mekanisme yang paling umum untuk keterlibatan sektor publik di pasar asuransi pertanian adalah:

 subsidi Premium- survei mengungkapkan bahwa sebagian besar jenis umum dari dukungan sektor publik untuk asuransi pertanian adalah melalui subsidi premium; 63 persen dari negara yang disurvei menggunakan mekanisme ini untuk dukungan asuransi ternak

 Investasi dalam penelitian dan pengembangan produk (R & D), pelatihan dan pengumpulan informasi-41 persen negara dalam survei melaporkan investasi sektor public  dalam R & D, pelatihan dan pengumpulan informasi untuk asuransi tanaman dan asuransi ternak masing-masing

 Perundang-undangan Asuransi Pertanian – studi menunjukkan bahwa pengembangan dari perundang – undangan asuransi pertanian tertentu juga merupakan bentuk penting dari dukungan untuk asuransi pertanian, undang-undang khusus untuk tanaman dan asuransi ternak terbukti pada 51 persen dari masing-masing negara yang disurvei.

 Reasuransi sektor publik – 32 persen negara di survei melaporkan reasuransi sektor public program asuransi tanaman dan asuransi ternak masing-masing.

 Subsidi Biaya Administrasi -studi juga mengungkapkan bahwa dukungan sektor publik melalui subsidi biaya administrasi asuransi tanaman dan ternak adalah praktek yang kurang umum, dengan hanya 16 persen dari negara yang disurvei menyediakan biaya administrasi subsidi untuk asuransi tanaman dan asuransi ternak masing-masing.

Tampaknya ada korelasi antara tingkat dukungan sektor masyarakat dan penetrasi asuransi pertanian. Mengenai aspek lain dari asuransi pertanian yang komersial, misalnya ternak dan peralatan pertanian, industri asuransi harus mampu mendorong anggota mereka untuk berspekulasi pada bidang – bidang tersebut dalam rangka untuk melengkapi upaya di tingkat pemerintah, terhadap pengembangan asuransi yang sesuai skema untuk semua aspek pertanian. Untuk meningkatkan hasil pertanian negeri ini, sangat dianjurkan bahwa pemerintah harus melihat masalah-masalah sektor pertanian, mengidentifikasi berbagai kualitas risiko yang mengancam petani seperti kekuatan finansial yang cukup untuk membayar premi asuransi pertanian, fragmentasi kecil dan lahan pertanian yang tidak teratur, rendahnya tingkat sosial, standar budaya dan pendidikan di bidang pertanian. Akhirnya, meskipun pemerintah menentukan tingkat suku bunga pinjaman yang rendah untuk proyek-proyek pertanian, bank dan lembaga – lembaga harus secara realistis didorong untuk memberikan pinjaman kepada petani. Faktor utama bank yang juga harus dipertimbangkan adalah kemampuan petani untuk membayar pinjaman, jika ada hasil yang tidak menguntungkan dari produk tersebut..

KOPERASI

Dilihat dari pengertiannya, koperasi itu adalah badan usaha yang segala kegiatannya mengacu pada prinsip koperasi dan juga menjadi gerakan ekonomi rakyat yang mempunyai azas kekeluargaan. Tujuan koperasi pada umumnya yaitu untuk memajukan kesejahteraan masyarakat pada umumnya, terlebih anggota dari koperasi itu sendiri. Koperasi pun mempunyai dasar hukum yang kuat yaitu UUD 1945 pasal 33.

Koperasi pun juga memiliki prinsip – prinsip yang berlaku bagi semua anggota maupun masyarakat pada umumnya. Prinsip – prinsipnya yaitu sebagai berikut :

  1. Dalam koperasi, keanggotaannya bersifat sukarela, tanpa ada paksaan, dan juga terbuka dan bersifat umum
  2. Pengelolaan koperasi pun dilakukan dengan demokratis
  3. Pembagian hasil usahanya pun dibagi secara merata sesuai dengan peran masing – masing dalam kegiatan koperasi tersebut.
  4. Balas jasa yang diberikan terbatas terhadap modal
  5. Menggunakan prinsip kemandirian

Koperasi pun mempunyai berbagai jenis variasi yang dikelompokan berdasarkan lapangan usaha dan keanggotaannya
1. Koperasi Berdasarkan Keanggotaannya
a. Koperasi Primer
Adalah koperasi yang anggotanya merupakan perorangan atau per individu
b. Koperasi Sekunder
Adalah koperasi yang beranggotakan dan dirikan oleh koperasi itu sendiri. (bukan individu)
c. Koperasi Pusat
Adalah koperasi yang mempunyai anggota paling sedikit lima badan hukum koperasi primer.

d. Koperasi Gabungan
Adalah koperasi yang mempunyai anggota paling sedikit tiga badan hukum koperasi pusat.

e. Koperasi Induk
Adalah koperasi yang mempunyai anggota paling sedikit tiga badan hukum koperasi gabungan.

2. Koperasi Berdasarkan Lapangan Usahanya
a. Koperasi  Produksi
Adalah koperasi yang bertugas menjual hasil kegiatan produksi yang dibuat anggotanya. Contohnya Koperasi Batik.

b. Koperasi  Serba Usaha
Adalah koperasi yang memiliki berbagai macam kegiatan di dalamnya, seperti pendistribusian, pelayanan pinjaman, dll. Contohnya Koperasi Unit Desa (KUD).

c. Koperasi Konsumsi
Adalah koperasi yang melakukan kegiatan penyediaan konsumsi yang dipergunakan untuk anggotanya. Contohnya Koperasi Sekolah.

d. Koperasi Simpan Pinjam
Adalah koperasi yang melakukan kegiatan simpan pinjam bagi anggotanya.

Sumber :

1. http://elqorni.wordpress.com/2010/02/02/usaha-perusahaan-dan-badan-usaha/

2. https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:KwlZXO247DYJ:staff.ui.ac.id/internal/131861375/material/KOPERASI1.ppt+koperasi&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESivf5Hwqpz3oMHxss-0cvqCt_pcXBLra62sVZ5H-IBKeyy8LnFh8E0V6cnGzs6B8a_6FvWqAjo7zIbFvuFR0Lgwx3P-gRt9J4-lUwv2Qa4uGOZp-sCMlcHv73n4IPiXCbEhRlc_&sig=AHIEtbQ45IMxIoVKjRsB-e3yI9RLiN-jmQ

3. https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTHmCs5RfUH4Rpxr5cgBaHMUBDeUc9YOC-Uo6s-Z2m329A6rHFvmg

GIRO

A. Pengertian

Menurut Undang – Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998, Giro adalah simpaann / dana dari pihak ketiga, dimana penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan media yaitu cek (cheque), bilyet giro dan sarana perintah pembayaran lainnya.

 

B. Kelebihan Giro

Ada banyak kelebihan yang di dapat jika kita memiliki rekening giro, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Jika kita harus membayar dalam jumlah yang besar, amak kita tidak perlu repot – repot membawa banyak uang. Ini bisa mengurangi resiko pencurian dan meningkatkan keamanan nasabah.
  2. Jumlah pembayarannya fleksibel. Jadi, jika kita menggunakan rekening giro, kita tidak perlu pusing – pusing seandainya jumlah pembayaran yang harus kita bayar membutuhkan uang kecil yang sangat rumit dalam  pembawaannya.

 

C. Kekurangan Giro

Disamping kelebihannya yang sangat membantu kita, apalagi untuk orang – orang yang tidak mempunyai waktu untuk mencari uang receh dan membawa uang dalam jumlah yang besar, ternyata Giro pun tidak luput dari kekurangan. Kekurangan Giro adalah pada sisi penjual atau penerima Giro. Penerima Giro tidak bisa langsung mencairkan Giro kapanpun dia suka. Penerima Giro harus mengikuti jam operasional dari Bank untuk mencairkan Giro. Hal ini tentu saja sangat beresiko, apalagi jika pembeli yang menggunakan Giro membeli barang yang langsung di bawa pulang. Jika terjadi penipuan, maka kita harus berurusan dengan pihak lain untuk mengetahui keberadaan pembeli yang melakukan penipuan tersebut.

 

Sumber :

  1. http://alukmalay.blogspot.com/2012/04/pengertian-giro.html
  2. http://artikel.blogdosen.com/pengertian-giro-definisi-giro-arti-giro-maksud-giro.html
  3. http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/B20E3F7B-64FF-457A-A06F-1F1AEF327E61/932/BG1.gif

 


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.